SISWA JAMAN DAHULU


KabarIndonesia – Kala jalan-jalan ke Bandung, terasa belum lengkap rasanya kalau belum makan nasi bakar di Jalan Cimandiri, atau belanja di jajaran outlet yang bangunannya sudah tua (bersejarah) Jalan RE Martadinata.

Dan tak seru kalau tak berpose di sebuah studio foto terkenal (Jonas) di tikungan Jalan Banda dan Progo. Dan belum seru kalau tak mencicipi aneka jajanan yang memenuhi kawasan tersebut.

Yang jelas, baik jajaran outlet di RE Martadinata, jalan Banda, Jalan Cimandiri, Jalan Progo, merupakan satu area yang sangat berdekatan alias berhimpitan. Begitu menyaksikan keramaian akhir pekan, penulis lalu terkenang masa silam. Dulu, kawasan ini sunyi senyap, ketika penulis baru pindah tahun 1969-an. Tepatnya di sebuah rumah di Jalan Progo.

Jalan Progo Bandung Awal 70-an
Senja ketika kami menginjakkan kaki ke sebuah rumah yang bakal kami huni, tampak ribuan kunang-kunang menyambut kami. Dan suara burung hantu serta jangkrik yang riuh rendah bersahutan. Ada kalong yang juga berseliweran.

Mengagumkan. Apalagi dari pekarangan belakang penulis bisa melihat jelas Gedung Sate yang megah itu. Waw……., seru sekali. Dan suasananya masih gelap . Malah kata orang, ini kawasan yang menyeramkan kalau malam, rawan kriminal saking sepinya. Juga gelap. Sesekali terdengar penjual sekoteng panas lewat.

Paginya penulis yang masih usia 5 tahun, jalan-jalan ke belakang rumah. Maksudnya menyusuri Jalan Progo ke arah barat, lalu belok ke jalan Banda menuju utara dan menyusuri Jalan Cimandiri ke arah timur.

Sebetulnya gampang saja kalau mau langsung ke Gedung Sate, tembok benteng rumah kami yang menghadap ke selatan itu pendek sekali, tinggal melompatinya, menyeberang selokan, ketemu kebun jagung dan sawah serta balong ikan. Langsung deh jalan Cimandiri melintang di depan kami. Tapi lantaran ingin lebih banyak mengenal lingkungan, ya kami jalan kaki.

Tahun 1969 itu, Gedung Sate masih memiliki pekarangan yang belum ditata. Belum ada taman, karena taman baru ditata tahun 1983an. Banyak pohon besar dan ilalang yang tingginya sampai semeter. Ada batu besar dan kuburan pejuang di sana. Harus waspada juga, lumayan banyak ular berkeliaran.

Kami juga biasa bermain di tanah kosong (sekarang gedung DPRD) yang membentang luas di sebelah barat Gedung Sate, menyeberangi Jalan Banda. Sesekali ada oplet jurusan stasiun -Gagak yang lewat sana , tapi jarang sekali.

Penulis akhirnya sering sekali ‘piknik’ ke Gedung Sate tapi di bagian yang halamannya lumayan lebih rapi, di sebelah timurnya. Tentunya sejak disekolahkan di TK Citarum yang satu gedung dengan SPG negeri 1 jalan Citarum (sekarang SMAN 20). Saat TK olahraga paginya sering juga di sebuah lapangan luas, dengan rumputnya (sekarang masjid istiqamah).

Barisan rumah dinas perguruan tinggi negeri itu dari ujung jalan barat berbatasan dengan jalan Banda, hanya ada 8 rumah. Sementara di bagian timurnya ada beberapa petak tanah kosong dan kebun ( sekarang ada 8 rumah berdiri di atasnya), lalu ke arah timur 4 rumah dinas ITB yang terus memanjang sampai ke jalan Cimanuk.bangunan yang berdiri di jajaran rumah dinas Unpad itu dibangun tahun 1960an, sementara yang sebelah barat rumah dinas ITB tahun 1950an.

Di belakang perumahan kami yang menghadap ke selatan ini, maksudnya bagian utaranya (jalan Cimandiri) membentang sawah, kebun dan balong.

Penulis juga terkesima dengan sebuah pohon karet yang besar di depan rumah, kaktus besar, bougenvile ungu dan cemara . Halamannya rindang dan asri. Rumputnya rumput Jepang. Banyak sekali kapling kosong di sebelah barat rumah kami, namun tahun 1970an ada 2 rumah berdiri. Yang satu milik Walikota Bandung Rd Hidayat, yang satu milik Bupati bandung Rd Lili Sumantri. Dan berangsur kebun-kebun kosong didirikan ruman dinas ITB, ada 6 rumah baru berjajar.

Menyusul bangunan demi bangunan berdiri di Jalan Cimandiri, sehingga tak mungkin lagi penulus ‘moncor’ melompati pagar untuk sekedar main kucing-kucningan dan balap lari dii lapangan Gedung Sate bagian belakang.

Sebenarnya di tahun 1970 dan 1971 pemandangan berkesan seputar Gedung Sate tersebut sementara harus kutinggalkan. Maklum, kami sekeluarga harus menyusul ayah yang mendapat tugas negara di negeri Jiran. Maka bulan Mei tahun 1971, kami pulang.

Hati kecilku saat itu merasa kecewa karena tak lagi dapat menyaksikan lapangan luas, kebun dan sawah. Jalan Cimandiri mulai dipenuhi oleh bangunan-bangunan permukiman dan sebuah wisma (sekarang gedung Alumni Unpad). Sementara di bagian timur rumah tempat tinggal kami mulai dipadati bangunan-bangunan baru secara berangsur.

Saat masih tinggal di negara Jiran, ada satu hal yang teramat aku rindukan dari rumah di Bandung, yakni ribuan kunang-kunang yang ternyata saat itu nyaris tak kutemukan lagi. Entah kenapa, saat sawah ladang berubah menjadi bangunan tembok, kepedihan mulai merayapi dasar jiwa. Ada sesuatu yang hilang. Jalan Cimandiri mulai dipadati bangunan, juga tanah kosong di samping rumah.

Penghuni Lama yang Berganti
Namun barisan rumah megah di hadapan rumah kami, Progo sebelah selatan yang menghadap ke utara, adalah rumah tua peninggalan Belanda. Yang sekarang sudah berupa wajah, adalah rumah Ibu Bpk Rd Mulkan di Progo 12, yang sudah dijual. Dulu cucu almarhum adalah teman main adik penulis, namanya Uli, dan ibunya Yayuk (menantu almarhum).

Sebelumnya ada rumah tua, milik teman main penulis, namanya Wati, anak SD Taruna Bankti, Ayahnya Bapak Darsono , yang AURI sekaligus juga ibunya adalah Ibu RT. Jika Wati berulang tahun, kami sering pesta kebun, dan ayahnya memutarkan film di pekarangan rumahnya yang luas. Ada kolam ikan, ada aneka tanaman. Sayangnya rumah itu kini sudah berubah menjadi sekolah SD swasta.

Ada juga sebuah bangunan favorit penulis. Karena besar sekali dan dijadikan wisma, atau sering disebut Winahjo Wisma.Kalau pulang sekolah penulis suka memerhatikan ada plang besar bertulis Keluarga berencana dengan gambar 2 anak dengan orang tuanya. Lalu berpindah tangan, jadi rumah kos. Dan akhirnya jadi sebuah hotel setelah digabungkan dengan rumah Jefri, anak yang seusia dengan kakak penulis.

Masih di jajaran seberang jalan, tahun 1970an rumah Jendral Wing Wiryawan saat itu juga termasuk sangat megah. Seingat penulis, dulu ada anjing herder yang suka diajak jalan, dan seorang anak lelaki kecil tahun 1980an suka bermain. Yang penulis tahu, itu putranya Mbak Vita, putri Pak Wing yang sangat cantik. Mbak Vita adalah kakaknya Ivan (teman kakak penulis di FT ITB). Dan sekarang, si kecil itu populer sebagai bintang sinetron dengan nama Wingky Wiryawan.

Di jalan Progo 9, dulu adalah rumah dinas Unpad yang cukuo luas oekarangannya. Ayah penulis datang usai studi di Belanda bersama seorang ekspatriat dari dunia oendidikan, Matress. Penulis sering bermain di rumah tersebut bersama anaknya Miriram dan March. Dijamu makan siang dan es krim buatan ibu mereka. Dan menyaksikan koleksi tanaman cantik.

Lalu ketika mereka pulang ke belanda, rumah menjadi Kantor Bantuan Hukum Unpad. Selanjutnya rumah tersebut dihuni oleh keluarga Bapak Sharan Basah, yang pindah dari Progo 17 akibat putra sulungnya Busye wafat, dan trauma tinggal di rumah nomor 17. Maka kantor LBH pun pindah ke nomor 17, bertukar dengan keluarga Pak Sharan di nomor 7.

Namun kini rumah tersebut sudah berpindah tangan menjadi milik studio foto di tikungan Progo Banda. Di jalan Progo 11, orangtua teman main badminton dan kucing-kucingan penulis dan adik penulis di masa kecil, yakni Dadong dan Ade Irawan, juga sudah pindah alias dijual rumahnya. Kata orangSunda, kalau ingat masa lalu Waas juga.

Di samping rumah penulis dulu ada juga teman main yang sekarang sudah jadi dokter anak di Kalimantan, namanya Dedet Hidayati. BTW, anaknya baik. Dan memiliki kakak lelaki yang lumayan sedikit usil daan sering mengolok-olok, kami memanggilnya Opik.

Yang saya ingat juga, adalah teman main seperti Rika, dan adik lelakinya Agus. Rika putri Pak Aat dosen ITB. Ibunya Rika adalah putri Pak Dali, ketua RK (RW) saat itu. Ketika masih kecil Rika dan penulis sama-sama di malaysia namun beda kota. Dan sat di Malaysia, Rika ditawari jadi bintang iklan Lifebouy. Tahun 1970an, ada iklan sabun tersebut yang menggambarkan anak sedangmandi dan membuat balon dengan riang gembira. Itulah Rika.

Kami suka main sepeda bareng di hari libur. Di sebelah rumah Rika ada juga putri pak Ivers Darmawan. Teman baik ayah penulis. Sama-sama alumni ITB, dan sama-sama pernah di Malaysia. Pak darmawan dosen ITB, dan istrinya Lien Darmawan teman kuliah ayah juga, mengajar di Unpad. Nike, Henny, Stani, Pauline, nama putri mereka, dan putras mereka Aa, Riko dan Iyan.

Masih teman main lainnya. Ada Afifah putri dosen mesin ITB Prof Sulaeman, ada juga Anita putri dosen ITB Pak Hadi. Ketika kecil, cucu Pak Hidayat yang tak kalah serunya kalau main, adalah Tatan, Tia dan Mimin. Konon Tatan sekarang kerja di BI. Dan ada juga Yani, putri tante Dani (istri dokter Zul Dahlan, spesialis penyakit dalam, paru-paru di Bandung) yang juga cucu Pak Hidayat, yang sering juga main dengan penulis. Ibu penulis saat itu jualan es mambo, dan kalau anak-anak datang, banyak yang memang niatnya main sembari jajan, tapi juga ada yang sengaja kami suguhi es kacang ijo buatan kami.

Cerita lain, ketika duduk di SD, pernah main dengan Dewi Andriani, putri bupati Bandung Rd Lili Sumantri. Hanya saja, Dewi yang cantik itu jarang sekali berada di jalan Progo. Lebih banyak tinggal di Pendopo (Alun-alun) Bandung. Ada kakaknya Irman, dan adiknya yang masihbayi Fitria. Dan itu adalah masa kecil yang tinggal kenangan. Tetapi selalu manis buat dicatat dalam ingatan.

Keramaian Gedung Sate dan Jalan Progo, Tempo Dulu
Di bulan puasa, setiap waktu imsak dan buka puasa selalu terdengar suara sirine dari Gedung Sate.

Saat itu gedung DPRD belum didirikan. Gedung Sate masih dilewati jalan Banda sampai ke Diponegoro (sekarang jalan Banda yang melintasi Gedung Sate ditutup, dijadikan lingkungan parkir ), juga jalan dulunya Cisanggarung bermuara di Jalan Diponegoro (sekarang sejak persimpangan Cimandiri ditutup, dijadikan lingkungan aprkir Gedung Sate).

Sejak tahun 1982-1983 Gedung sate mulai ditata secara apik, dibuat taman bunga yang mengundang para juru foto dan pengantin untuk memotret di kawasan taman yang indah. Dan sejak saat itupulalah penutupan jalan Banda dan Cisanggarung bagian utara dilakukan

Kenangan indah lain adalah keramaian balap Go-Kart yang saat itu sedang trendy. Remaja-remaja dan pemuda kaya sering menjadi peserta balap Go-Kart. Di lingkungan Gedung Sate sering diadakan Balap Go-Kart. Tahun 1969an bahkan pernah memakan korban, yakni penonton yang celaka karena Go-Kart yang keluar arena.

Tontonan lain yang mengasyikkan, adalah latihan marching band sebuah SMA swasta di jalan Sultan Agung (TOP, St Aloysius), yang saat itu sering melewati pula jalan di depan rumah kami. Tetapi secara rutin mereka selalu berlatih di pekarangan Gedung Sate.

Para Resimen Mahasiswa juga sering mengadakan latihan dan menyusuri selokan depan rumah kami yang saat airnya masih jernih dan dipenuhi ikan impun dan kepiting. Rasanya senang sekali kalau ada kesibukan-kesibukan yang membuat anak-anak tertarik.

Balap Go-kart di Gedung Sate masih berlangsung di awal tahun 70-an. Tapi menjelang tahun 1975 keramaian semakin mewarnai lapangan Gedung Sate. Pernah diadakan pesta kemarau dimana lautan manusia menyesaki halaman belakang Gedung Sate. Dari atas tembok benteng rumah, aku bisa menyaksikan Achmad Albar dan God Blessnya beraksi, juga menyaksikan lautan histeria massa yang juga memakan korban pingsan dan luka.

Kesibukan latihan motor Trail, kebut-kebutan juga berlangsung di kawasan ini. Terjun payung, pernah pula diadakan di lapangan yang sekarang menjadi Gedung DPRD. Helikopter mendarat, itu juga tontonan mengasyikkan. Sementara tahun 1976 dan seterusnya, lapangan Gedung DPRD tersebut juga sering dijadikan tempat latihan Soft Ball para remaja.

Yang menyedihkan, di kawasan ini seringkali pula dijadikan lokasi arena ‘ngepot’ dan kebut-kebutan mobil. Di jalan Progo pengebut yang nakal bahkan pernah menabrak pohon sampai tewas. Tradisi ngebut itu juga berlangsung tengah malam. Mobil yang ngepot, suara remnya berdecit-decit, sering memecahkan kesunyian di permukiman sekitar gedung sate tersebut.

Pada tahun 1970-an, anak-anak kecil ramai bermain sepeda mini. Menjelang tahun 1980an, musim sepeda mini berganti menjadi musim Skate Board dan sepatu roda. Muncul grup-grup perkumpulan sepatu roda dan skate board. Jalan Cilaki di bagian timur gedung sate yang antara lain menjadi lokasi berlatih.

Pada tahun 1980an Gedung sate sempat menjadi ajang peragaan slalom test. Dan sekarang sejak pertengahan dasawarsa 1980an berangsur-angsur menjadi arena olahraga, bazaar, perdagangan kaki lima, café mobil, dan senam pagi masal setiap hari minggu.

Tapi tahun 2000 suasananya sudah berubah total menjadi pasar dadakan yang kumuh. Kawula muda yang ngeceng dan mejeng tampak sangat menikmati suasana keramaian seminggu sekali tersebut, kendati udara segar berubah menjadu kepengapan yang kurang menyehatkan, apalagi banyak asap roda dua dan empat ikut meramaikan suasana setiap Minggu pagi itu.

Pada perkembangannya, semenjak tahun 1980an lokasi jalan Progo ( di belakang jalan Cimandiri, belakang Taman Gedung Sate selatan) berangsur-angsur mulai ramai menjadi arena bisnis. Sekarang tahun 2000, bekas rumah mantan Ibu RT, Ibu Darsono, sudah puluhan tahun lalu dibeli oleh sebuah sekolah swasta sehingga menjadi sekolah. Winahyo Wisma, bangunan tua ala Belanda itu sekarang sudah menjelma menjadi penginapan atau hotel.

Ruman mantan Walikota Bandung, Rd Hidayat, sekarang menjadi galeri kertas. Suasana nyaman dan lengang di masa lalu kini sudah pudar. Rumah di ujung jalan sudah berubah menjadi sebuah Studio Foto terkenal. Sekarang, malam hari, yang ada hanyalah suara kebisingan mobil lalu lalang. Siang hari, pada jam berangkat dan pulang sekolah, menjadi jadwal kebisingan yang memuncak dan membuat temperatur sejuk itu berganti menjadi hawa panas yang kotor. (*)

http://www.kabarindonesia.com//

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: