Kisah dlm Film Denias Ternyata Masih Terjadi, TNI jadi Guru di Pedalaman Papua


Pernah nonton film Denias, Senandung Diatas Awan? Hari minggu kemarin sempat diputar di SCTV, begitu indahnya film itu. Dalam sebuah episodenya, dikisahkan seorang tentara dari satuan Kopassus ditugaskan sebagai Babinsa di desa terpencil di sebuah desa pegunungan di Papua. Ternyata si Serma Maleo bukan bertuhgas menjaga keamanan saja. Dia terpanggil melakukan tugas sosialnya sebagai ‘guru dadakan’yang harus dilakuannya karena guru yang asli pulang ke jawa. Di Indonesia, bukan hanya tentara saja yang bertugas rangkap sebagai guru, bahkan tenaga Bidan dan Dokter yang kena tugas PTT pun sering melakukan hal sama, merangkap menjadi ‘guru dadakan’ akibat kurangnya tenaga guru yang tersedia. Bukan tenaga-gurunya yang kurang, tetapi Pemerintahlah yang kurang bisa memberikan insentif yang layak untuk menempatkan seorang guru di daerah-daerah terpencil itu. Sementara para elit dan politisi di Jakarta sana, hanya bisa gembar-gembor saja bahwa dana pendidikan harus mencapai 20% dari APBN.

TNI jadi guru di pedalaman Papua

WASPADA ONLINE, JAYAPURA, Tuesday, 26 August 2008 10:19 WIB – Satuan Tugas (Satgas) TNI-AD dari berbagai kesatuan yang ditugaskan di pos-pos keamanan daerah perbatasan antarnegara dan daerah terpencil di pedalaman Provinsi Papua, ternyata mempunyai andil besar dalam proses pencerdasan bangsa melalui pendidikan.

“Disela-sela tugasnya menjaga keamanan negara, para prajurit TNI itu juga menjadi guru, dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) secara sukarela tanpa upah,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Papua, Sutedjo Suprapto di Jayapura, tadi malam.

Dia mengaku, kondisi SD dan SMP di pedalaman pada umumnya masih sangat memrihatinkan, sehingga dapat mempengaruhi mutu lulusan murid. Kondisi itu adalah kekurangan guru, karena ada SD Kelas I hingga Kelas VI hanya diajari satu atau dua orang guru, bahkan ada yang kosong, sehingga banyak murid SD yang lulus masuk SMP, namun kurang bisa membaca, menulis dan berhitung.

Di sisi lain, ada oknum guru yang kabur ke kota-kota besar berbulan-bulan lamanya tanpa alasan yang jelas, padahal mereka menerima gaji setiap bulannya dengan lancar tanpa menyadari bila tindakannya itu membohongi masyarakat, terutama murid.

Menurut Sekda, Satgas TNI-AD dari berbagai kesatuan yang ditugaskan di pos-pos di perbatasan antarnegara seperti Papua Nugini (PNG) dan daerah-daerah terpencil, secara sukarela memegang kapur setiap hari untuk mendidik anak-anak SD dan SMP. Namun, setelah pasukan Satgas itu ditarik pulang ke kesatuannya, maka kondisi murid-murid terlantar lagi.

Karena itu, kata dia, karya anak-anak bangsa Satgas TNI-AD yang ditugaskan di pos perbatasan dan pedalaman, patut diajungi jempol dan karyanya pasti diberkati Tuhan Yang Maha Esa.

“Kerjasama ini ke depan akan menjadi perhatian Pemprov Papua terutama kesejahteraan para aparat keamanan ini,” katanya.

Untuk itu, Pemprov Papua melalui Dinas Pendidikan dan Pengajaran (P&P) Provinsi Papua membuka sekolah kecil Kelas I-Kelas III dan selanjutnya murid tersebut dipindahkan ke sekolah inti Kelas IV sampai Kelas VI.

Sayangnya, mutu kelulusannya masih sangat diragukan karena ditemukan ada murid Kelas I SMP, namun belum bisa membaca, menulis dan menghitung.

“Kondisi di Papua ini lain daripada kondisi sekolah di luar Papua, sehingga terus dilakukan upaya untuk memecahkan masalah kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangannya, walaupun biaya yang dibutuhkan cukup besar,” demikian Sutedjo.

http://www.waspada.co.id/Berita/Nasi…man-Papua.html

Bisa jadi dalam ransel setiap anggota TNI yang akan ditugaskan ke wilayah terpencil, kini bukan hanya berisi 2 stel seragam dan alat-alat keperluan sehari-hari saja. Tapi, di dalamnya juga mereka diperintahkan membawa buku-buku paket pelajaran sejak SD hingga SMA. Jaga-jaga saja kalau harus menjadi guru di temnpat bertugas yang baru.

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: