Potret Suram Pendidikan di Pedalaman Papua


WAMENA – Sekelompok bocah bertelanjang kaki menyambut kedatangan kami dengan riang dan senyum polos. Pakaian yang dikenakan pun seadanya.

“Sudah pulang sekolah kha,” tanya kami. “Sudah,” jawab mereka kompak. Umur mereka sekitar lima enam tahun. Di antara bocah-bocah prasekolah itu ada juga anak-anak usia bangku sekolah dasar. Kemudian dengan bangganya mereka mengantar kami naik ke sebuah bukit kecil untuk melihat tempat belajar mereka.

Namanya Sekolah Belajar Anak (SBA). Kalau di kota besar menyebutnya play group. Bentuknya mirip sebuah honay (rumah adat Wamena). Namun, tidak seperti play group di perkotaan yang lengkap dengan sarana permainan plus alat-alat kegiatan belajar-mengajarnya.

Tetapi, di SBA semuanya serbaminim. Selusin spidol satu per satu dibagikan oleh sang guru untuk dipakai bersama-sama. Kertas tulisnya pun hanya sebuah karton manila yang digunting. Tidak ada buku tulis yang dipakai untuk mereka.

Sebenarnya ada sebuah white board hasil pembagian, tetapi sudah hilang entah ke mana. Sarana bermain pun hanya sebuah prosotan sederhana yang terbuat dari kayu.
Terletak di Kampung Wetlangko Distrik Kurulu, SBA ini memang diperuntukkan anak-anak usia 5 tahun. Uniknya sekolah yang didirikan Wahana Visi Indonesia (WVI) ADP (Area Development Program) Kurulu sejak 2007 itu juga sering dipenuhi anak-anak SD kelas I dan II.

“Mereka anak-anak kelas I dan II. Tetapi karena sekolah mereka di SD Inpres Wedangku jauh dari kampung, jadi mereka sering datang belajar di sini. Guru mereka juga jarang masuk mengajar,” ujar Hengky Kombo, satu-satunya guru di SBA ini.

Hengky sebenarnya bukanlah seorang guru. Ia tamatan sekolah Alkitab. Tetapi, karena didorong rasa ingin memajukan pendidikan di daerahnya, ia sukarela ikut membantu.
Lain lagi cerita ini. Saat berada di Kota Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, kami bertemu dengan sekelompok anak-anak usia sekolah yang keluyuran saat jam sekolah. Kepada kami mereka mengaku masih SD. Tetapi saat ditanya kenapa tidak sekolah, jawabannya sungguh mengagetkan. “Untuk apa sekolah, bu guru saja tra pernah masuk,” ujar mereka dengan nada santai bahkan seolah-olah menertawakan pertanyaan saya.

Lain kisah Otinus Komba dan Peres Asso asal Kampung Anggruk, Kabupaten Yahukimo Papua. Moto kejarlah ilmu sampai ke negeri China, sepertinya cocok buat keduanya.
Kedua anak usia 11 tahun ini rela berjalan kaki selama tiga hari tiga malam untuk sampai ke Kampung Maima, Distrik Kurima Kabupaten Jayawijaya sekadar dapat bersekolah di Elementary School Advent atau SD Advent Maima.

“Kita dengan bapak misionaris jalan kaki. Kitong (kita) ada tujuh orang jalan kaki semua. Kalau malam, kita tidur di gua-gua. Trus makannya sudah bawa dari rumah. Tapi tong (kami) juga masak di jalan,” cerita keduanya.

Otinus dan Peres mengaku sebenarnya di tempat mereka ada sebuah SD, tetapi lagi-lagi gurunya yang tidak pernah ada. “Ibu guru ke Wamena, jadi di sekolah tidak ada guru,” ujarnya.

Karena sekolah mereka jauh dari rumah, kedua bocah lugu ini tinggal di asrama yang disediakan sekolah.Itulah potret suram pendidikan di pedalaman Papua. Hampir semua muridnya mengadu kalau guru mereka tak pernah masuk sekolah. Para guru lebih memilih ke kota daripada mengajar di pedalaman terpencil.

Butuh Pengabdian
Sebuah sumber yang sering bergaul dengan masyarakat juga ikut berbicara. Ia menuturkan kehidupan para guru di pedalaman selalu bergelut dengan utang di atas utang. ”Mereka itu sering kredit-kredit. Jadi begitu akhir bulan penghasilan yang diterima sangat minim. Bahkan, ada yang terima hanya Rp 17.000 per bulan. Bayangkan hidup di pedalaman dengan biaya tinggi hanya gaji segitu saja.. Hal ini mungkin menjadi penyebab para guru ini jadi malas mengajar,” ujarnya.

Ada lagi cerita, kalau ada siswa yang tak pernah masuk sekolah. Begitu mendekati saat penerimaan rapor, ada yang mulai menghadap guru dengan memanggul seekor anak babi. ”Otomatis langsung naik kelas. Karena sudah dapat babi. Di sini harga seekor babi ukuran sedang tinggi,” ungkap sumber SH ini.

Tetapi, di antara itu masih ada juga guru yang punya kepedulian terhadap dunia pendidikan di pedalaman, seperti guru Ramses Repasi dan Fred M. Kedua guru ini mengaku sudah mengabdi selama puluhan tahun di Kampung Maima, sebuah kampung yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

SD Advent Maima, di situlah keduanya menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka mengajar di sekolah Otinus dan Peres. Kalau Ramses tinggal di dekat sekolah, sedangkan Fred, rumahnya di Wamena Kota. Setiap hari Pak guru Fred harus bangun pagi-pagi untuk tepat waktu tiba di sekolah yang jaraknya 30 km dari rumahnya. Sehari Rp 25.000 untuk naik angkot. Sampai di area longsor, Pak Fred harus berjalan kaki sejauh 5 km dengan jalan mendaki dan berlumpur menuju tempatnya mengajar. “Sarana perumahan guru yang disediakan sekolah terbatas. Jadi, saya tinggal di Wamena Kota,” kisahnya.

Diusik pertanyaan soal banyaknya rekan guru mereka yang tak pernah mau mengajar di pedalaman, keduanya berkata kompak bahwa jangan melulu guru yang selalu disalahkan. “Kita harus lihat alasannya kenapa sampai mereka tidak mengajar. Apakah karena tunjangan kurang ataukah ada faktor lain,”ujar mereka.

Kedua guru ini mengaku bekerja sebagai guru di pedalaman membutuhkan sebuah pengabdian yang tulus. “Bila kita mau ikuti ego dan kata hati, berat memang menjadi guru di pedalaman. Tetapi itu semua kami lakukan untuk memajukan pendidikan di pedalaman. Karena kami yakin anak-anak pedalaman sebenarnya pintar-pintar, tetapi karena kurang ilmu jadi terlihat mereka tertinggal,” tuturnya.
——————————–
Sumber:http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/06/nus02.html
Diposkan oleh Lembaga Pendidikan Papua

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: