Tanah Sumbangan Warga, Dinding Gedung Retak


TAK LAYAK: Karena gedung terbatas, kelas di SDN Gili Timur III disekat. Malah kini gurunya mogok.

Menengok SDN Gili Timur III Yang Gurunya Mogok Takut Rampok

Sudah lima hari guru SDN Gili Timur 3, Kecamatan Kamal, mogok mengajar. Mereka merasa tidak aman setelah kejadian perampokan menimpa kepala sekolahnya. Bagaimana kondisi sekolah di pelosok itu?
AHMAD MUSTAIN SALEH, Bangkalan

UPAYA keras harus dilalui koran ini untuk mencapai lokasi SDN Gili Timur 3. Jika berangkat dari Kota Bangkalan menuju arah selatan (Kamal). Sampai di Jalan Raya Telang, lalu belok kiri di pertigaan menuju kampus Universitas Trunojoyo. Untuk menuju ke lokasi, masih ke timur lagi. Jalan mulai kampus negeri itu memang lengang dan dikenal rawan aksi krimininal. Tak banyak orang atau kendaraan lewat.

Jalan beraspal yang masih baru akhirnya terputus. Koran ini mulai berhati-hati memacu sepeda motor karena bebatuan terhampar di jalan makadam. Sekitar 2 km melewati jalanan rusak, untuk ke lokasi harus melewati jalan cukup menukik turun. Sebelum jalan kembali menanjak terdapat sebuah jembatan kecil. Menurut sumber koran ini, di lokasi inilah Achmad, kepala SDN Gili Timur 3, dirampok beberapa hari lalu.

Untuk menuju lokasi SDN Gili Timur 3, koran ini harus berbelok kanan sebelum jembatan kecil ini. Jalan kecil yang aspalnya sudah habis terkikis menghadang. Setelah 500 meter melewati medan berat, beberapa rumah warga mulai terlihat. Anak-anak kecil tampak asyik bermain di pinggir jalan. Mereka mencari kesibukan lain setelah sekolahnya ditutup mendadak. Namun, upaya menuju gedung sekolah masih belum mudah. Masih sekitar 1 km lagi dari lokasi rumah pertama untuk bisa tiba di SDN Gili Timur 3.

Akhirnya koran ini tiba di lokasi. Sepintas sebuah bangunan terbagi dalam beberapa ruang kelas berdiri kokoh. Halamannya cukup luas, digunakan untuk lapangan bola voli, bulutangkis, dan lompat jauh. Hanya, papan nama sekolah sudah usang. Tulisan SDN Gili Timur 3 sudah mengelupas dan tidak terbaca lagi.

Tak berselang lama, seorang perempuan paruh baya keluar dari rumah yang berdekatan dengan sekolah. Perempuan bernama Misniyah mendatangi koran ini dan menanyakan maksud kedatangan dengan menggunakan bahasa Madura. Setelah memberikan penjelasan, akhirnya Buk Mis-sebutan Misniyah-mau bercerita terkait perjalanan panjang sekolah tersebut.

Sepanjang yang dia ingat, SDN Gili Timur 3 ada sejak 1983. Saat itu warga setempat yang jauh dari pemukiman lainnya sangat membutuhkan sekolah bagi anak-anak mereka. Bahkan, saat itu Buk Mis mau menjual tanahnya untuk sekolah dengan separuh harga.

Tak hanya itu. Perempuan itu menghibahkan tanahnya yang berlokasi di depan sekolah untuk kelanjutan pembangunan sekolah. “Saya sudah hibahkan tanah yang dijadikan lapangan voli itu. Tapi sampai sekarang belum dibangun juga,” ujarnya sembari menunjuk areal halaman sekolah.

Yang pasti, tidak ada aktivitas di sekolah saat koran ini tiba di lokasi. Menurut Buk Mis, siswa hanya bermain saat guru-gurunya tidak masuk ngajar.

Buk Mis yang anak angkatnya menjadi tukang kebun sekolah juga mengajak koran ini berkeliling sekolah. Dari dekat, ternyata kondisi sekolah sangat memprihatinkan. Empat ruang kelas yang ada disekat-sekat agar terbagi untuk enam ruang kelas. Termasuk satu ruang guru dan satu ruang yang dijadikan gudang.

Hampir di seluruh dinding ruang kelas terdapat retakan yang cukup parah. Ditambah lagi beberapa dinding dan atap yang jebol. Lantai yang masih terbuat dari tegel pun sudah banyak yang terbongkar.

Setelah berkeliling melihat kondisi sekolah, koran ini pun balik. Namun, jalan pulang lewat jalur yang berbeda. Koran ini harus melewati pematang sawah yang cukup sempit. Di musim kemarau membuat sawah kering dan tidak dapat ditanami apa pun.

Cukup lama dan terasa cukup jauh koran ini untuk bisa menemukan perkampungan warga. Meski sempat bertanya pada beberapa warga yang mencari rumput, namun tidak jarang koran ini kesasar ke jalan buntu. Hingga akhirnya jalan raya yang diharapkan berada di depan mata. (mat)
sumber : http://www.radarmaduranews.com

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: