Tribe : Belajar dari Orang-orang Pedalaman


Berburu buaya untuk makan malam, menikmati ulat pohon sago sebagai lauk, minum darah lembu sebagai pengganti air atau menjadi bagian dari pejuang paling ditakuti di lembah Omo di Ethiopia. Sepertinya gambaran berikut melengkapi betapa primitifnya masyarakat suku-suku terasing di bumi ini. Tapi ini juga tentang sebuah acara televisi yang mengajak pemirsa untuk memahami budaya dengan cara berbeda.

Lewat serial Tribe yang baru saja disiarkan BBC2 Bruce Parry mencoba menjadi bagian dari kehidupan pedalaman ; bukan hanya sekedar penonton atau pembuat film. Bruce Perry adalah mantan pelatih marinir Inggris termuda, memimpin berbagai ekspedisi di Borneo dan Papua, juga menghasilkan film2 dokumentasi menarik seperti Extreme Lives. Dalam pendekatan kali ini Bruce memilih untuk tinggal minimal dua minggu dengan suku pedalaman ; hidup, makan, tidur, bergaul, bekerja dan bertingkah seperti mereka.

Seri Tribe ini adalah bagian kedua dari seri sebelumnya yang disiarkan tahun 2005, berhasil mendapat kritik bagus dari para pengamat teve. Di US, seri I dikemas dengan judul Going Tribal yang disiarkan oleh Discovery Channel ini bercerita tentang menelusuri kehidupan keenam suku terasing di pojok-pojok dunia.

Mereka adalah suku Adi (India), Suri (Ethiopia), Kombai (Papua), Babongo (Gabon), Darhad (Mongolia) dan Sanema (Venezuela). Sedang seri II adalah ekspedisi tiga bulan di Afrika untuk mengamati tiga suku yang selalu terlibat konflik : Nyangatom, Hamar, dan Dassanech.

Seperti yang diungkapkan Bruce, Tribe adalah melihat bagaimana masyarakat lain hidup dan mempertanyakan tentang bagaimana kita hidup saat ini. Tentang nilai-nilai keluarga, masalah gender, sex, drugs, kesehatan, dan kelanjutan hidup. Konsep mereka yang sederhana diterjemahkan dengan manis lewat interaksi mendalam berupa bagaimana mereka hidup, masalah apa yang dihadapi dan tentu saja masalah konflik atau perang.

Suku Kombai yang masih mengenakan koteka menuntut Bruce untuk menanggalkan baju sebagai ungkapan niat tulus, sedang suku nomaden Darhad yang dulunya tertutup membuka diri setelah keluar dari cengkeraman Rusia. Bahkan suku Adi di Himalaya belum pernah bertemu dengan orang asing sebelumya.

Selain menuntut untuk hidup dengan cara mereka, Bruce berhasil menggambarkan kehidupan mereka dengan konsep yang jelas. Tentang makanan misalnya, adalah sulit dipahami jika minum darah kerbau adalah salah satu bentuk survival, makan serangga hidup dengan nasi, berburu buaya untuk dibakar adalah upaya mereka memanfaatkan apa yang ada disekitarnya. Konsep sederhana : mengambil dari alam dengan bijaksana adalah benang merah antara suku2 dimanapun. Mereka menyadari mengambil lebih dari yang dibutuhkan bukan saja menghancurkan kestabilan sumber hidup namun menjadi sebuah konsep reliji. Bahwa roh dan tetua tidak mengijinkan memperkosa alam.

Bruce juga berusaha untuk berburu, membuat rumah, memancing, dan juga berlatih perang. Dengan Nyangatom misalnya yang terkenal dengan keganasan tentaranya, Bruce berhasil mendapatkan gelar satria setelah melalui tahap-tahap inisiasi yang tidak mudah. Dengan suku Kombai di Papua, Bruce meninggalkan sepatu dan mencoba berburu babi hutan dengan kaki telanjang, memancing dengan meracuni ikan, tinggal di rumah pohon dan membersihkan kotoran telinga dengan memasukkan ulat.

Ada banyak nilai dan benturan budaya seperti yang diakuinya sendiri. Masalah kanibalisme di suku Kombai ; daripada menunjuk tradisi ini sebagai barbarian, Bruce memilih untuk bijaksana, menanyakan bagaimana tradisi berawal dan kenapa mereka memutuskan memakan orang. Para suku yang diberitakan ganas dan tidak berperikemanusiaan ini terlihat begitu polos, bersahabat dan sangat terbuka. Ini bukan saja mengajak penonton untuk bersimpati pada budaya dan perilaku mereka namun juga memahami dari sisi anthropologi.

Awalnya serial ini cukup kontroversial terutama di kalangan akademisi. Bukan saja kehadiran orang asing di sebuah suku akan memberikan visi berbeda dari yang selama ini mereka kenal. Sentuhan dan kontak akan menjadikan budaya mundur, stagnan atau bahkan berubah. Namun seri Tribe justru memberikan wacana baru untuk kita memahami permasalahan masyarakat modern dari kacamata sederhana.

Berbicara tentang permasalahan modern, para suku asing ini terancam berbagai hal seperti halnya penyakit, penyalahgunaan hak asasi manusia, air, tanah dan hak milik juga marginalisasi dari negara mereka sendiri dan ulah pihak luar. Masalah penyakit, tambang dan logging gaharu di Papua misalnya adalah contoh klasik tentang minusnya perhatian terhadap suku Kombai.

Saya jadi teringat kisah Bruno Manser yang menghabiskan enam tahun (1984-1990) hidup dengan suku Penan di Serawak Malaysia. Kisahnya saya tonton sewaktu nginap di The Highlanders Miri. Waktu itu saya ditawari untuk menonton film dokumenter sembari melepas lelah. Film itu mengisahkan bagaimana Manser mewakili masyarakat suku pedalaman untuk mengajukan protes terhadap pemerintah Malaysia terhadap praktik logging yang menyerobot wilayah teritori Penan. Lewat blokade jalan, aksi Manser ini mendunia menjadikan ia musuh nomor satu pemerintah Malaysia. Tahun 2000 Bruno Manser dikabarkan hilang setelah sempat mengirimkan surat terakhir dari lembah Bario di Kelabit Highland (berbatasan dengan Indonesia). Spekulasi menyebutkan ia dibunuh dan dibuang di rimba raya karena tergiur hadiah $40,000 untuk mendapatan kepalanya.

Bruno Manser menghasilkan buku catatan yang kaya akan kehidupan masyarakat Penan, bahasa, budaya, agrikultur dan bahkan seni. Hanya saja jejak Bruno sepertinya hilang ditelan kebuasan kapital, sedangkan Bruce menghasilkan dengung panjang tentang begitu berartinya nilai-nilai sederhana masyarakat pedalaman.
sumber : http://ambar.corbridges.net

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: