Anak adalah Spons

Anak adalah spons. Mereka menyerap setiap kata yang keluar dari mulut anda. Mereka meniru bahasa tubuh anda dan mereka mengemulasi tingkah laku anda. (Nanny 911)

Kalimat di atas adalah kutipan dari sebuah buku yang sedang saya baca. Dan semuanya terbukti. Anak-anak menyerap dengan cepat apa yang mereka dengar dari sekitar mereka. Sekolah, rumah, ketika bermain bersama kawan, adalah media yang baik untuk menyerap. Saya dan suami sejak awal membuat peraturan bahwa semarah apapun kami berdua dilarang keras untuk menunjukkan di depan anak kami, biasanya ketika anak sudah tidur baru kami bicarakan dari hati ke hati semua permasalahan yang sedang kami hadapi. Semua itu dengan tujuan agar kami tidak kehilangan kendali ketika sedang marah, karena biasanya orang kalau lagi marah semua kata-kata yang tidak pantas akan terlontar, semarah apapun kami berusaha untuk saling menjaga emosi kami. Ketika marah pasti kami akan tersenyum melihat ulah putra kami, jadi meskipun marah kami tetap tersenyum. Sehingga pada sesi pembahasan, masalah yang ada sepertinya menguap.

Adalah larangan untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas di dalam rumah. Baik saya maupun suami selalu menjaga itu dan saling mengingatkan.

Setelah 3 bulan kami hidup terpisah karena suatu alasan. Dan tugas saya menjadi semakin berat. Karena di lingkungan barunya tidak ada anak-anak yang sebaya. Kalo saya keluar rumah melakukan aktifitas, anak saya tinggalin di rumah dengan oma dan ma’cinya(sebutan untuk bibinya). Saya sering kaget, betapa cepat sekali anak-anak meniru kata-kata yang didengarnya. Pernah sekali anak saya mengatakan “Lase ni…(semacam makian untuk daerah kami” terus saya tanyakan : “kenapa bicara begitu? Dengar darimana?”. “itu dari ma’ci Nita”,jawabnya polos. Ketika mau tidur saya jelaskan ke anak kalau kata itu tidak baik, biarkan saja ma’ci bicara begitu, tetapi kamu tidak boleh. Keesokan harinya ketika dia mendengar lagi kata yang sama dia berbalik dan berkata kepada ma’cinya “he e e, bicara apa itu e, tidak boleh bicara begitu ma’ci!”(ma’cinya bengong). Sejak saat itu saya beri pengumuman di rumah, diharapkan sangat masing-masing yang ada di rumah untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas,karena ada anak kecil disini!. Dan Puji Tuhan semuanya mau bekerja sama.

Pernah sekali saya bertamu ke rumah teman bersamanya. Anak kawan saya sebaya dengan anak saya, jadi mereka bermain bersama. Setiap dia bermain selalu mengatakan “tolo ni.” Jelas anak saya bingung-bingung kata apa itu? Saya mengawasi, kapan dia akan menirunya. Dan benar 10 menit kemudian tanpa disadari dia pun berkata “tolo ni.” Saya menegurnya dan dia mengganti kata “tolo ni” dengan na’na’na dan ritmenya sesuai dengan kata “tolo ni.” Mengapa anak kawan saya suka memaki, karena mamanya juga begitu, kata-kata makian seperti sudah menjadi kata seruan di rumah itu. Selesai urusan, saya segera pamit pulang.

Saya selalu berusaha berbuat yang baik ditiru. Yang selalu menyenangkan saya adalah ketika anak saya meniru saya untuk belajar. Kalau saya membaca dia suka bertanya, “Mama, kenapa mama suka baca terus-terus e?”. “Biar kita bisa mengetahui banyak hal,” Jawab saya.Maka tanpa disuruh dia segera mengambil buku dan pensilnya lalu mulai belajar. Kadang mengambil buku ceritanya dan minta diceritakan tentang ikan atau apa saja.

Inti dari semua adalah membangun komunikasi dengan anak. Bagaimana kita menyampaikan pesan yang kita inginkan kepada mereka. Dulu saya sering sekali berteriak dan hasilnya, anak saya pun ikut berteriak kalau minta sesuatu. Perlahan saya mulai merubah cara saya, mendekatinya dengan lembut, mulai berkomunikasi dan lebih sering berkontak mata. Apa yang tidak disukainya saya tanyai. Dan saya tidak melayani permintaannya dalam keadaaan menangis. Terkadang dia merengek kalau inginkan sesuatu, saya katakan “Mama tidak mengerti kalau kamu bicara sambil menangis, hapus air mata, tenang baru bicara.” Dan dia menurut. Saya belajar membuatnya untuk bisa menyampaikan perasaannya, apakah dia sedang marah, sedih atau senang, juga bagaimana memaafkan dan meminta maaf. .

Setiap saat saya belajar untuk sabar menghadapi anak. Cara mengatasi amarah, membagi waktu dan saya menikmati semua itu. Meskipun terkadang letih ketika pulang dari kampus dan disambut dengan berbagai pekerjaan rumah yang menumpuk, tetapi hanya dengan satu senyuman dan pelukan dari putra tercinta, semua letih terhapus sudah.

Saya hanya ingin supaya dia bisa berbahasa yang sopan dalam pergaulannya. Dengan membangun komunikasi dari dini saya berharap semakin bertambah usia dia bisa menilai mana yang baik dan yang tidak, mana yang perlu ditiru dan mana yang harus diabaikan.

anak-anak tidak akan pernah belajar bagaimana menggunakan katakata kecuali mereka mendengar dari orangtuanya.

Semoga, kita bisa selalu memberikan yang baik untuk ditiru oleh anak-anak kita…..

Tolo, lase = kemaluan laki-laki. Pukimai = kemaluan perempuan.

oleh : Antonetta Maryanti

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: