LULUS CEPAT ATAU LULUS TEPAT ; Silahkan Memilih!


Lalu kapan saya akan diwisuda, adik kelas sudah lebih dulu. Hati cemas merasa masih begini, teman baik sudah di DO, orang tua di desa menunggu, calon istri gelisah menanti… (Koboy Kampus ; Panas Dalam)

Lirik lagu Koboy Kampus karya Panas Dalam diatas mungkin akan menjadi sound track bagi mahasiswa-mahasiswa yang “betah” di kampus. Betah di kampus, bagi saya banyak sekali kriteria alasan yang dapat dijadikan faktor kenapa masih banyak mahasiswa yang memilih atau bukan karena pilihannya menjadi hidup (maaf; lama) di kampus.

Pertama, betah di kampus karena memang benar-benar merasa masih betah hidup di kampus, misal : karena merasa lebih enak menjadi mahasiswa yang selalu dikasih duit bulanan sama orang tua yang akhirnya mahasiswa itu merasa keenakan. Kedua, betah di kampus karena faktor akademik, misal : karena permasalahan nilai yang kurang/belum mencukupi standar kelulusan. Ketiga, betah di kampus karena “disayang” dosen pembimbing tugas akhir (skripsi), misal : dosen pembimbing yang susah ditemui di kantor, dosen pembimbing yang mengedapankan subyektifisme (selera/penilaian pribadi) saat membimbing mahasiswa skripsi atau susah di hubungi atau bisa jadi karena memang benar-benar sangat disayangi oleh dosen pembimbing skripsi. hohoow…. Keempat, betah di kampus karena “Cinta”, Upss… misal : nunggu lulus bareng pacar yang satu atau dua angkatan dibawahnya. Kelima, betah di kampus karena masih merasa perlu menggali potensi sebagai mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja atau masih butuh banyak pengalaman dalam dunia mahasiswa. Tapi biasanya, kriteria alasan yang kelima ini sudah jarang ditemui, walau masih ada beberapa. hheu…

Kembali ke judul yang saya tuliskan di atas, LULUS CEPAT ATAU LULUS TEPAT adalah sebuah pilihan bagi setiap mahasiswa. Ketika orientasinya ingin LULUS CEPAT, ya monggo “autis” dengan kesibukan akademik, misal : kuliah terus, nyatet semua yang di tampilin slide power point/OHP dosen, jangan pernah membolos, mengerjakan semua tugas, pokoknya jangan pernah beralih ke kesibukan lain selain kesibukan yang terkait dengan kuliah, kuliah dan kuliah. Sedangkan ketika orientasinya adalah ingin LULUS TEPAT, konsekuensinya selain sibuk di akademik juga harus sibuk atau mau mencari ilmu/pengalaman lain di luar akademik, misal : kuliah sambil berorganisasi, kuliah sambil kerja, aktif di forum-forum diskusi (lembaga kajian) atau kuliah sambil aktif di kegiatan-kegiatan sosial yang ada baik di internal kampus maupun di luar kampus, tapi dengan catatan bagaimanapun caranya akademik jangan sampai terbengkalai. Jadi, maksud saya begini. Ketika si Mahasiswa itu aktif dalam organisasi atau kegiatan-kegiatan di luar akademik, mahasiswa itu juga harus aktif di akademik juga, misal : jangan cuma baca-baca buku di luar perkuliahan, tapi lahap juga buku-buku perkuliahan, aktif berdiskusi di kelas, tugas juga jangan lupa di kerjakan. Nah, kalau misalnya ternyata pihak fakultas memberlakukan kebijakan presensi mahasiswa minimal harus 75%, dalam satu semester, ya silahkan bagaimana caranya terserah anda yang menjalankan. Intinya manfaatkan jatah 25% yang boleh tidak hadir di kelas itu untuk kesibukan lain.

Dunia kerja saat ini memang banyak yang menuntut salah satu syarat bekerja, adalah lulusan yang mempunyai IPK minimal 2,75 atau ada juga lembaga tertentu yang hanya menerima lulusan yang mempunyai IPK minimal 3,00 atau bahkan mungkin lembaga yang hanya menerima lulusan yang mempunyai IPK diatas 3,00, sudah ada juga kali ya… Tapi kalau menurut saya, IPK tinggi tidak jaminan lulusan tersebut mempunyai skill atau keahlian lain. Bisa jadi lulusan itu gaptek (gagap teknologi), kurang pengalaman berorganisasi atau wacananya sempit (sekali lagi ; maaf). Makanya bagi anda (mahasiswa belum lulus atau yang sudah lulus) yang mempunyai IPK standar/biasa-biasa saja, jangan berkecil hati, tidak usah pake minder segala, apalagi kalau sampai bunuh diri (lebay : mode on) karena yang penting anda punya banyak skill, potensi atau keahlian lain, maka niscaya pasti banyak dunia kerja yang sesuai dengan skill atau potensi anda, atau malah kalau mau bisa jadi anda malah mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, misal : dengan membuat LSM, lembaga penelitian atau mendirikan industri kecil lainnya.

Sebagai penutup, sudah dibaca semua kan tulisan dari atas sampai bawah? Jadi, sekarang saya kembalikan ke anda lagi. Anda bebas menggunakan hak pilihnya, hheu… Silahkan memilih! Mau LULUS CEPAT ATAU LULUS TEPAT?

sumber : http://edukasi.kompasiana.com

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: