NYATA DULU ATAU SIMBOL DULU

oleh : Dr.H.Y. Padmono, M.Pd.

Sungguh saya bahagia, karena tulisan tentang “Matematika itu ilmu pasti atau berpikir logis” mendapatkan sanggahan. Artinya, masih banyak yang memiliki kepedulian terhadap Matematika terutama bagaimana menjadikan anak suka matematika, karena Matematika hanya persoalan + dan -, tentu dengan berbagai variasinya! Matematika seharusnya mampu mendidik anak kita menjadi logis dan akhirnya bijak, faktanya banyak anak kita justru menjadi takut dan melarikan diri! Katanya pasti kok sulit, lucu juga lho! Sementara yang mempelajari kehidupan social dengan berbagai dinamika dianggap mudah (atau juga sulit tapi gurunya yang sosial, jadi anaknya memperoleh nilai tinggi-tinggi!)

Mengapa Matematika Menjadi Sulit!

Ketika di meja siswa kelas satu ada tumpukan buku, kemudian tumpukan buku (misal banyaknya ada tiga belas), kemudian kita pindahkan (misal empat buku), maka siswa dengan mudahnya menghitung sisa buku yang tidak dipindahkan. Namun, mengapa banyak anak menjadi kesulitan manakala harus mengerjakan soal 13 – 4 = …

Pada kasus pertama, anak dengan mudah karena ia menghitung (membilang) satu sampai Sembilan berdasar fakta buku-buku yang tertinggal. Sementara kasus kedua, anak harus menghitung dengan memperhatikan prosedur (meminjam puluhan untuk bisa dikurangkan dengan 4), bila hanya dibayangkan tentu sulit!

Berdasar kasus tersebut, secara nyata menghitung berdasar persoalan kehidupan sehari-hari lebih mudah disbanding menghitung dengan symbol-simbol semata (bagi anak yang telah menguasai logika formal tentu tidak bermasalah).

Faktanya!

Coba kita cermati buku-buku paket matematika yang ada di sekolah dasar, misalnya: buku “Terampil Berhitung – Matematika untuk SD Kelas IV” terbitan Erlg. Tahun 2006 Lihat halaman 1 – 37 atau latihan 1-44, semuanya modelnya adalah seperti kasus 2 yang penekananya adalah penyelesaian dengan symbol-simbol, sementara yang berbentuk soal cerita baru dimulai halaman 38 atau latihan 45. Jadi setelah 44 latihan siswa baru dikenalkan dengan persoalan sehari-hari (Sampel buku asal saja kok yang dipunyai anak!) Pada halaman depan (halaman 3) 405 + n = 300 + 405; n = …. (Sifat komutatif penjumlahan). Ini hanyalah contoh bahwa buku-buku di SD lebih mengedepankan simbol-simbol dibanding memberikan persoalan nyata yang dialami siswa sehari-hari!

Dari induktif ke deduktif

Temanku guru SD!

Matematika, kalau tidak salah bersifat deduktif, artinya beberapa cara (rumus) menghitung telah ada, sehingga ketika kita mengerjakan caranya, maka siswa pada dasarnya hanya menggunakan saja (given), padahal anak-anak SD (usia 6-12 tahun), kata mbah Piaget (meminjam tata bahasanya Kangiwan), berada pada tahap pra operasional konkret sampai 2-7 tahun dan operasional konkret usia 7-12 tahun. Artinya mereka dapat memahami persoalan melalui kerja konkret.

Jadi mestinya, anak-anak belajar matematika berdasar pengalaman konkret, pengalaman nyata yang dia alami sehari-hari. Mereka harus kita dorong untuk mencari dengan eksplorasi berbagai cara, selanjutnya kita pandu untuk menyimpulkan temuan mereka dan selanjutnya baru disimpulkan (generalisasi), jadilah rumus. Ia akan merasa senang, puas, dan akhirnya ia akan mau melakukan lagi-melakukan lagi…. Senanglah dia untuk belajar matematika, ujungnya kalau anak-anak sudah suka, yakinlah dia nanti akan menenggelamkan (immersion) pada kesukaannya itu.

Kita bagaimana?

Memang buku paket kita, isinya symbol-simbol sedang soal cerita biasanya diberikan paling akhir (banyak yang bilang penerapan), ini yang membuat anak senantiasa menghadapi kesulitan! Teman-teman tidak perlu mengikuti itu 100%, bukankah kita memiliki hak untuk menataurutkan kembali materi-materi yang tersaji, apalagi dengan diberlakukannya KTSP, panjenengan semua bisa menentukan target-target menurut tingkat perkembangan siswa Anda!

Anak-anak kita tidak semuanya bermental taftness, jadi bisa saja ketika mereka senantiasa menghadapi hal-hal asing, simbolis, dan menyulitkan, mereka bisa menjadi terbiasa menghadapi kesulitan, bosan, dan akhirnya menganggap masalah itu bukanlah hal penting (hal yang sulit sering dianggap tidak penting sementara hal yang terlalu mudah akan diremehkan!)

Kita ini sutradara pembelajaran dan bahkan penulis scenario, jadi kita bisa mengatur dengan mendasarkan observasi kita terhadap siswa kita. Seberapa tingkat kemampuan siswa, apa kesukaannya, apa yang diinginkan…. Kita bisa bertransaksi dengan siswa kita, dan start dari apa kesukaan siswa.

Ayo!

Mengajar dengan start dari

mudah ke sulit

Konkret ke absrak

Dekat ke jauh

Diri ke orang lain

Khusus ke umum

Dan, yakinlah…. Jika kita mampu membangkitkan emosi (keaktifan mental… ), anak anak menikmati bagaimana proses belajar….

Jangan pikirkan hasil belajar dulu, tapi pikirkanlah apakah pembelajaran yang kita kembangkan sudah mengajak siswa kita aktif bergerak, aktif bergaul, aktif berpikir….. yang ia lakukan dengan perasaan senang dan merasa membutuhkan!

Saya percaya teman!
Kalian bisa!

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: