POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN DISIPLIN ANAK


Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era
globalisasi, menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan yaitu fungsi
membimbing, mengarahkan untuk membentuk perilaku bermoral dari anak-
anak terhadap perkembangan perilaku yang dipengaruhi oleh kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi tersebut. Jika dalam era globalisasi tidak ada upaya
untuk mengantisipasi manusia dapat larut dan hanyut di dalamnya. Berkaitan
dengan hal tersebut, perubahan yang cepat mengharuskan adanya berbagai
upaya terhadap anak agar mereka mempunyai kemampuan untuk
mengantisipasi, mengakomodasi dan mewarnai arus globalisasi (tidak hanyut
dan larut dalam arus global). Pelanggaran-pelanggaran nilai moral yang
dilakukan anak sekarang ini dipandang sebagai perwujudan rendahnya disiplin
diri pada anak. Disinilah peran dan tanggung jawab orang tua sangat
dibutuhkan dalam memberikan pendidikan disiplin dalam keluarga.
Berbagai aturan dasar dalam pendidikan tidaklah dibuat semaunya
demi kepentingan orang tua, namun juga dibentuk agar bermanfaat bagi anak.
Hak-hak seorang anak adalah hak untuk dilindungi, tidak saja terhadap orang
lain tetapi juga terhadap dirinya sendiri, terhadap dorongan-dorongan
pribadinya yang belum terkendalikan. Mereka berhak meminta perlindungan
pada orang tua, sampai mereka siap mengadakan pilihan berdasarkan penilaian
diri sendiri. Karena itu mereka berhak diberi aturan-aturan sampai mereka
mengerti apa artinya “tanggung jawab“ penuh dan memikul sendiri akibat suatu
perbuatan atau kesalahan.
Ki Hadjar Dewantoro (1962: 100) menyatakan bahwa keluarga
merupakan “Pusat Pendidikan“ yang pertama kali dan terpenting karena sejak
timbulnya adab kemanusiaan sampai kini, keluarga selalu mempengaruhi
pertumbuhan budi pekerti tiap-tiap manusia. Di samping itu, orang tua dapat
menanamkan benih kebatinan yang sesuai dengan kebatinannya sendiri ke
dalam jiwa anak-anaknya. Inilah hak orang tua utama dan tidak bisa dibatalkan
oleh orang lain. Sehubungan dengan ini, disiplin diri sangat diperlukan bagi
anak agar ia memiliki budi pekerti yang baik. Bantuan yang diberikan oleh
orang tua adalah lingkungan kemanusiawian yang disebut pendidikan disiplin
diri. Karena tanpa pendidikan orang akan menghilangkan kesempatan manusia
untuk hidup dengan sesamanya.
Disiplin sangat penting artinya bagi perkembangan anak. Dengan
mengenal aturan-aturan, anak akan merasa lebih aman karena mereka tahu
dengan pasti perbuatan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan.
Apabila aturan-aturan telah tertanam, anak akan berusaha menghindari
perbuatan-perbuatan terlarang dan cenderung melakukan hal-hal yang
dianjurkan. Karena ia telah mempunyai patokan yang jelas, ia tidak lagi hidup
dalam kebimbangan. Disiplin merupakan aspek utama pada pendidikan dalam
keluarga yang diemban oleh orang tua karena mereka bertanggung jawab
secara kodrati dalam meletakkan dasar-dasar dan fondasinya kepada anak-
anak.
Tujuan disiplin adalah mengupayakan pengembangan minat anak dan
mengembangkan anak menjadi manusia yang baik, yang akan menjadi sahabat,
tetanggga dan warga negara yang baik. Tanpa peran semua pihak, maka untuk
mewujudkan generasi penerus bangsa yang cerdas, disiplin dan bertanggung
jawab serta memiliki moral yang baik akan mengalami kesulitan. Pihak yang
harus berperan pertama kali dalam mewujudkan disiplin pada anak supaya
tidak terbawa arus globalisasi adalah peran keluarga (Shochib, 1997: 3).
Dalam perspektif Islam, kewajiban orang tua dalam mengupayakan
disiplin diri kepada anaknya terdapat dalam ayat Al-Qur`an. Orang tua wajib
mengupayakan pendidikan kepribadian (QS. Lukman: 12-19). Pendidikan
dalam keluarga dipersiapkan sejak wadah persiapan pembinaan anak dimulai,
yaitu sejak awal pembentukan keluarga dengan ketentuan; persyaratan iman
(QS. Al- Baqarah : 221), persyaratan akhlak (QS. An-Nur : 3), dan persyaratan
tidak ada hubungan darah (QS. An-Nisa : 22-23).
Keutuhan orang tua (Ayah dan Ibu) dalam sebuah keluarga sangat
dibutuhkan dalam membantu anak untuk memiliki dan mengembangkan dasar-
dasar disiplin pada anak. Keluarga yang utuh memberikan peluang besar pada
anak untuk membangun kepercayaan terhadap kedua orang tuanya, yang
merupakan unsur essensial dalam membantu anak untuk memiliki dan
mengembangkan dasar-dasar disiplin. Kepercayaan dari orang tua yang
dirasakan oleh anak akan mengakibatkan arahan, bimbingan dan bantuan orang
tua yang diberikan kepada anak.
Masing-masing keluarga memiliki perlakuan yang berbeda-beda dalam
mengasuh dan membimbing anak. Dalam keluarga sering kita jumpai orang tua
yang berlaku keras terhadap anaknya. Semua aturan yang telah ditentukan oleh
orang tua harus dituruti sebab jika anak melanggar peraturan, orang tua akan
marah, akibatnya anak diancam atau dihukum.
Di lain pihak, ada juga orang tua yang memperhatikan dan menghargai
kebebasan anak, namun kebebasan tersebut tidak bersifat mutlak. Orang tua
senantiasa memberi bimbingan yang penuh pengertian. Keinginan dan
pendapat anak sepanjang tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku
dalam keluarga dan tidak berdampak buruk bagi anak, orang tua akan selalu
memperhatiakn dan disetujui untuk dilaksanakan. Sebaliknya terhadap
keinginan dan pendapat yang bertentangan dengan norma-norma dalam
keluarga dan masyarakat, orang tua akan memberi pengertian secara rasional
dan objektif, sehingga anak mengerti apa yang menjadi keinginan dan
pendapatnya tersebut tidak disetujui orang tuanya.
Berbagai cara pengasuhan tersebut sangat berpengaruh terhadap anak.
Sebagai gambaran anak yang selalu diawasi dan diatur yang disertai ancaman
akan menjadikan anak patuh dihadapan orang tuanya. Kepatuhan bukan atas
dasar kesadaran dari hati anak, namun atas dasar paksaan, sehingga anak
dibelakang orang tua akan memperlihatkan reaksi-reaksi melawan atau
menentang orang tua.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pihak yang harus berperan
pertama kali dalam mewujudkan disiplin pada anak supaya tidak terbawa arus
globalisasi adalah peran keluarga. Keluarga merupakan “Pusat Pendidikan“
yang pertama dan utama dalam masyarakat, karena dalam keluargalah manusia
dilahirkan. Bentuk, isi dan cara-cara pendidikan di dalam keluarga akan selalu
mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya budi pekerti dan kepribadian tiap-
tiap manusia. Dengan demikian orang tua mempunyai tanggung jawab dalam
membimbing dan mengarahkan agar anak berdisiplin baik dalam melaksanakan
hubungan dengan Tuhan yang menciptakannya, dirinya sendiri, sesama
manusia dan lingkungan alam dan makhluk hidup lainnya berdasarkan nilai
moral.
Namun dalam kenyataannya, tidak semua keluarga dalam hal ini orang
tua dapat melaksanakan peranannya dengan baik. Kenyataan tersebut dilatar
belakangi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu faktor pekerjaan. Orang tua
lebih sering berada di luar rumah karena kesibukannya dalam bekerja,
menjadikan perhatian dan kasih sayang pada anak berkurang. Kurangnya
komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak menyebabkan kediplinan
anak baik itu kedisiplinan dalam hubungnnya dengan Tuhan YME, dengan
dirinya sendiri, maupun dengan orang lain menjadi kurang terkontrol oleh
orang tuanya. Kenyataan tersebut dapat terjadi pada keluarga-keluarga yang
berada di perkotaan atau di perumahan yang sebagian besar orang tua sibuk
dengan pekerjaannya seperti di Perumahan, mayoritas penduduk di Perumahan masih
dalam usia produktif, sehingga dalam aktivitas sehari-hari penduduk
Perumahan Muria Indah disibukkan oleh pekerjaannya masing-masing padahal
mereka mempunyai keluarga yaitu anak-anak yang masih membutuhkan
bimbingan serta arahan dari kedua orang tua mereka. Mengingat pentingnya
peran keluarga dalam memberikan dasar-dasar disiplin pada anak dan sebagai
orang tua yang mempunyai tanggung jawab, meskipun orang tua disibukkan
dengan pekerjaan dan sebagainya harus tetap memperhatikan pendidikan
disiplin dalam keluarga baik itu dalam hubungannya dengan Tuhan YME,
dengan dirinya sendiri, maupun dengan orang lain, sehingga anak tidak terbawa
oleh arus globalisasi yang berdampak negatif dan melanggar dari norma-norma
yang berlaku dalam masyarakat.
Oleh :Herlin Prasetiyanti

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: