Taufiq Ismail : Pelajaran Mengarang di Sekolah, Terlantar


Penyair Taufiq Ismail menilai, saat ini pelajaran mengarang di sekolah Indonesia sangat terlantar. Akibatnya siswa kurang berminat belajar menulis sastra, seperti puisi atau cerita pendek.

“Pelajaran bahasa di sekolah banyak tentang linguistik, sedangkan sastranya rendah. Mata kuliah bimbingan mengarang tidak diberikan di IKIP sehingga pelajaran bahasa di sekolah juga sedikit tentang mengarang,” katanya pada seminar internasional di Surabaya, Rabu.

Seminar dalam rangkaian Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) XIII 27-30 September yang diikuti peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Pilipina dan Thailand itu juga menghadirkan pembicara Prof Dr Siti Zainon Ismail (Malaysia) dan Taufik Ikram Jamil (Riau).

Taufik mengaku prihatin dengan kondisi itu karena pada jaman Belanda dengan sekolah AMS para siswa diwajibkan mengarang 106 judul dalam tiga tahun dan 25 buku sastra wajib dibaca dalam tiga tahun atau sekitar delapan buku dalam satu tahun.

“Jadi setelah lulus di AMS, anak-anak itu sudah enak mengarang. Kalau sekarang, Depdiknas itu sangat berat pekerjaannya menumbuhkan kegiatan sastra di sekolah. Kami tidak akan mencerca melainkan harus membantu,” katanya.

Untuk membantu itu, Taufik melalui majalah Horison telah melakukan enam program Gerakan Sastra Horison sejak beberapa tahun lalu. Program itu berupa sisipan “Kakilangit” di majalah Horison yang sejak delapan tahun lalu sudah dikirimkan ke 4.500 sekolah.

“Program lainnya adalah pelatihan Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS) untuk 1.500 guru sejak lima tahun lalu. Selama ini kan para siswa dan guru hanya diajari mengapresiasi sastra, sedangkan membaca dan menulis tidak ada,” katanya.

Dikatakannya, program lain adalah Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya (SBSB) yang sejak lima tahun lalu telah dilaksanakan di 220 SMA di 120 kota di seluruh Indonesia kecuali di Ambon dan Papua yang belum.

“Melalui program SBSB ini kami dan para sastrawan telah menemui sekitar 110.000 siswa dan guru untuk diajak berbicara mengenai karya sastra dan para siswa atau guru bertemu langsung dengan pengarangnya,” katanya.

Untuk kalangan mahasiswa, Horison menggalakkan program Sastrawan Bicara, Mahasiswa Membaca (SBMM). Program sejak tiga tahun lalu itu telah mendatangi sembilan perguruan tinggi di Indonesia dengan mengajak sekitar 20 sastrawan.

“Di kalangan perguruan tinggi itu jarang sekali memanfaatkan sastrawan, padahal ibaratnya mereka itu ada beberapa puluh meter saja di luar pagar kampus. Mestinya perguruan tinggi memanggil dan memanfaatkan sastrawan untuk berbicara tentang karya sastranya,” ujarnya.

Mengenai lomba, Horison juga menggelar Lomba Menulis Karya Sastra (LMKS) dan Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) untuk guru dan program lainnya adalah mendirikan Sanggar Sastra Siswa Indonesia di 12 kota dan tahun ini diprogramkan ada lagi 20 sanggar.

Pada kesempatan itu Taufiq sempat membacakan dua puisinya, masing-masing Kupu-Kupu di dalam Buku dan Membaca Buku dan Mengarang, Kakak-Adik Kandung Tak Terpisahkan. Kedua puisi itu berbicara tentang pentingnya membaca. [Tma, Ant] gatra

Karangan siswa Malaysia
ini adalah hasil ujian MENGARANG seorang anak SD di Malaysia, dalam UPSR (semacam EBTANAS di Malaysia). Coretan & tulisan bolpen merah adalah koreksi dari guru penilai.



Iklan

2 Komentar (+add yours?)

  1. CahNdeso
    Jul 26, 2010 @ 23:37:59

    Foto Taufiq Ismail Gue tempelin di blog gue, Neng, boleh, kan? Terimakasih yeeee…

  2. Return to My Blogg
    Jul 08, 2010 @ 19:26:27

    padahal, kalo ada pelajaran mengarang seperti sekolah jaman Belanda dulu, pasti lebih banyak sastrawan muda jaman sekarang.

    eman-eman ke waktu, remaja sekarang kebanyakan main-main dulu ketimbang serius-serius

%d blogger menyukai ini: