Anak ikut UAS-BN, Kenapa Cemas?


Bagi sebagian besar orang tua yang anaknya saat ini tengah duduk di bangku kelas VI SD, mungkin harap-harap cemas adalah kata-kata yang paling tepat untuk menggambarkan situasi perasaannya saat ini. Bagaimana tidak, hari ini secara serempak seluruh siswa SD tengah menghadapi hari pertama pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah Bertaraf Internasional (UASBN).

Sebagai sebuah ujian akhir di tingkat SD, UASBN merupakan salah satu indikator yang akan menentukan lulus atau tidaknya siswa. Agak berbeda dengan pelaksanaan ujian akhir SMA ataupun SMP, pada tingkatan SD perasaan harap-harap cemas mungkin lebih banyak dialami oleh orang tua murid ketimbang si anaknya sendiri.

Tak percaya? Coba saja tengok ke sejumlah sekolah dasar yang tengah melaksanakan UASBN, di sana umumnya banyak ditemui orang tua murid yang tengah menunggui anaknya menghadapi rentetan soal-soal yang diujikan dalam UASBN. Beragam ekspresi tampak dari mereka, ada yang terlihat cemas dan mondar-mandir, ada yang sibuk mengobrol, ada yang santai-santai, sampai ada yang sibuk bercanda dan bergosip.

Hal serupa tampak di SDN 01 Menteng. Pengamatan Kompas.com, belasan orang tua murid juga tampak hadir di SD yang pernah menjadi tempat menimba ilmu Presiden Amerika Serikat Barrack Obama itu. Namun, selama ujian berlangsung, mereka tidak diperkenankan masuk ke areal dalam sekolah.

Beberapa dari mereka tampak hanya duduk-duduk santai dan mengobrol menunggui anaknya yang ujian mulai dari pukul 08.00-10.00. Agak berbeda dengan sekolah lainnya, orang tua murid di SD ini nampaknya agak lebih tenang dalam menunggui pelaksanaan UASBN.

Effendi (66), salah satu orang tua murid, atau tepatnya kakek murid, karena yang ia tunggui adalah salah satu cucunya, juga berada dalam kelompok yang sama dengan orang tua murid lainnya di SDN 01 Menteng. Ia tengah menunggui Haris (11) cucunya yang tengah mengikuti UASBN.

Dalam perbincangan dengan Kompas.com, Effendi mengaku tidak sedikitpun merasa cemas menantikan cucunya menempuh UASBN. “Ujian ini kan sesuatu yang biasa, tidak istimewa. Kenapa ditakutkan? Kalau memang sudah siap dan sudah belajar, insya Allah bisa,” katanya.

Menurutnya, saat ini muncul paradigma yang salah di kalangan orang tua murid yang merasa ketakutan dengan adanya UASBN. Ia menuturkan, mereka yang merasa cemas berlebihan, malah menunjukkan ketidaksiapannya sebagai orang tua dalam mempersiapkan anaknya menghadapi ujian.

“Yang ketakutan itu terlalu berlebihan. Ujian seperti ini memang diperlukan untuk mengetahui kemampuan siswa. Kalau siswanya tidak siap yang tidak akan lulus,” ujarnya.

Pria yang merupakan purnawirawan TNI ini menjelaskan, hal yang perlu dilakukan orang tua murid saat ini adalah mempersiapkan kondisi yang memadai bagi proses belajar mengajar untuk anaknya. Dengan situasi yang kondusif bagi anak untuk belajar, diyakini ia dapat dengan tenang dan berhasil mengerjakan ujiannya. “Jangan malah kebanyakan harap-harap cemas, tapi padahal tidak pernah membimbing anaknya,” tegasnya.
http://edukasi.kompas.com

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: