Calon Ilmuwan pun Berkostum Wayang Orang

Selain drama musikal Rama & Shinta pada gelaran Indonesian Cultural Festival (ICF) di Nanjing University Aeronautics and Astronautics (NUAA), China, didukung oleh 49 mahasiswa Indonesia yang berkuliah di NUAA, pementasan ini juga mendatangkan seperangkat kostum wayang orang langsung dari Yogyakarta.

Pergelaran drama musikal dengan kostum wayang orang tersebut diadakan di Auditorium NUAA pekan lalu, yang disaksikan oleh Rektor NUAA, Duta Besar RI untuk China, serta Ketua Pertukaran Mahasiswa dan Pengajar BLCI.

Selain itu, beberapa menu makanan daerah Indonesia juga dikemas dan dikirim untuk diperkenalkan pada acara ICF tersebut. Demikian siaran pers yang dikirimkan Ketua Pertukaran Beijing Language Culture Institute Indonesia (BLCI) Samuel Wiyono kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (6/7/2010).

Menurutnya, para calon ahli pesawat luar angkasa, ilmuwan, bahkan pebisnis handal dari Indonesia yang sedang menuntut ilmu di NUAA itu juga mampu menjadi seniman dan mau mempromosikan kebudayaan negerinya sendiri.

“Pemain-pemain berkostum wayang orang tersebut adalah para mahasiswa Indonesia program gelar S-1 yang sedang mempelajari bidang studi Aeronautics Engineering, Software Management Engineering, Mechanlical Engineering dan Bisnis Internasional di NUAA,” kata Samuel.

Dikatakannya, kisah epos tersebut pun ternyata mudah dicerna oleh sebagian mahasiswa China yang ikut menyaksikan pergelaran. Hal tersebut karena banyak analogi yang sama ditemukan di kisah-kisah asli asal China sendiri, seperti sosok Kera Putih Hanoman, yang mirip sosok dengan Kera Sakti atau Sun Wu Kong, atau Burung Jatayu yang mirip sosok Rajawali pada kisah the Condor Heroes, atau kisah romantika dalam Kisah Cinta Liang Shan Bo dan Zhu Ying Tay atau dikenal dengan Sampek Eng Tay.

Perhimpunan mahasiswa

Samuel berharap, kegiatan seni budaya para mahasiswa dengan skala besar seperti Indonesian Cultural Festival (ICF) di NUAA, ini tidak hanya dilaksanakan para mahasiswa Indonesia di Nanjing saja, melainkan juga di kota lain seperti Chongqing, Suzhou, Nanchang, Hefei, Ningbo, Hangzhou, Dalian, Beijing, Shanghai, Guangzhou dan lainnya di China.

“Karena memang banyak mahasiswa kita menuntut di sana dari bermacam latar program studi. Selain itu, beberapa perhimpunan mahasiswa lain pun sudah terbentuk seperti SICS atau Suzhou Indonesia Students Comunity,” tambah Samuel.

Dia menambahkan, dengan dukungan pemerintah kedua negara melalui usaha peningkatan kerja sama promosi pendidikan dan kebudayaan di seantero China, mahasiswa mempunyai peluang kerja lebih besar nantinya.

“Kami berharap mahasiswa Indonesia mendapatkan informasi mengenai perhimpunan mahasiswa Indonesia di China yang dapat membantu sekaligus memotivasi mereka untuk berogranisasi, termasuk mempromosikan kebudayaan Indonesia,” tandas Samuel.

Adapun ICF diselenggarakan oleh Perkumpulan Indo NUAA (PIN) dan didukung Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (Permit) Nanjing di Tiongkok.(sumber di sini)

Iklan

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: