Mahasiswa Finlandia Antusias Belajar Gamelan

Tidak seperti biasa, suasana di aula Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Helsinki, Finlandia, meriah oleh dentingan metallophone, gambang, gendang dan gong gamelan. Alunan musik itu membuat pendengar sejenak terbawa ke suasana di suatu tempat di Pulau Jawa.

Mereka yang mendengar tabuhan dan dentingan melodi gamelan tersebut awalnya menyangka bahwa para pemusik pasti seniman asal Indonesia. Namun siapa nyana, yang memainkan irama gending tersebut adalah para mahasiswa Finlandia.


Menurut siaran pers KBRI Henlsinki, mereka adalah sepuluh mahasiswa dari Sibelius Academy Finlandia. Para mahasiswa melakukan latihan praktek seni musik karawitan di Ruang Gamelan KBRI Helsinki, Kamis 4 Maret 2010.

Latihan praktek tersebut merupakan kelanjutan dari kuliah teori dasar seni musik tradisional Indonesia, yang pada tanggal 25 Februari 2010 diberikan oleh seorang pegawai setempat KBRI Helsinki, Reijo Lainela, dihadapan 12 mahasiswa dan dosen Fakultas Pendidikan Musik di Sibelius Academy Finlandia.

Dalam kuliahnya, selain memaparkan sekilas sejarah musik tradisional Indonesia, teori musik gamelan, dan pengenalan konsep dan peralatan musik klasik Jawa serta Bali, Sdr. Reijo Lainela juga memaparkan seni wayang kulit, gamelan Bali, serta filsafat musik tradisional Indonesia.

Sepuluh calon guru musik Finlandia tersebut melakukan latihan praktek karawitan dengan mempelajari dan membawakan tiga buah gending, yakni Kebo Giro dengan laras slendro dan pelog, Ladrang Pangkur, dan Sampak. Di akhir latihan praktek karawitan tersebut, Sdr. Reijo Lainela juga memperkenalkan seni pedalangan Jawa dengan peralatan wayang kulit Purwa.

Sibelius Academy merupakan satu-satunya akademi musik yang menawarkan pendalaman ilmu dan riset di bidang musik di Finlandia. Nama Sibelius Academy juga dikenal sebagai salah satu akademi musik terbaik di Eropa, khususnya di belahan Utara Eropa.

Lebih dari 1400 mahasiswa menimba ilmu musik di akademi tersebut. Lulusan Sibelius Academy banyak yang menjadi seniman musik ternama dunia. Bahkan, diantara lulusan tersebut banyak yang menjadi tenaga guru musik yang handal.

Pengenalan musik tradisional Indonesia kepada kalangan mahasiswa perguruan tinggi di Finlandia merupakan salah satu wujud upaya aktif KBRI Helsinki dalam memanfaatkan diplomasi soft power ala Indonesia, yakni dengan upaya mempromosikan kekayaan khasanah seni dan budaya Indonesia di negara akreditasi.

Dalam praktek karawitan tersebut, kesepuluh calon guru musik tersebut menunjukkan minat dan apresiasi yang mendalam terhadap keanekaragaman seni tanah air. Hal ini ditunjukkan dengan keseriusan dan ketekunan mereka dalam memainkan gending karawitan yang dikenal cukup rumit.

Pengalaman menunjukkan bahwa pengalaman baik yang diterima oleh kalangan masyarakat setempat terhadap seni budaya Indonesia kerap kali menjelma menjadi agen diplomasi Indonesia yang baik dan efektif di negara akreditasi. (vivanews.com)

Iklan

1 Komentar (+add yours?)

  1. ans
    Agu 10, 2010 @ 03:17:53

    ironisnya…terkadang masyarakat kita sendiri enggan mempelajari budayanya sendiri. Jadi ingat beberapa waktu yang lalu saat cari bahan skripsi…pengen dalemin tembang jawa malah referensi yang diberikan ama kawan ternyata orang belanda bukan orang jawa seperti yang saya bayangkan….he he….suatu saat anak cucu kita harus keluar negri untuk mempelajari budayanya sendiri…bunda iin…mampir ke blogku ya..www.godongkelor.blogspot.com

%d blogger menyukai ini: