Cara Bijak Hadapi Putra/i yang Tinggal kelas

Penerimaan rapor telah berlalu, tentunya memberi warna tersendiri bagi siswa dan juga wali murid. Bila siswa naik kelas tentu rasanya sangatlah senangn karena ini merupakan buah dari jerih payah dalam belajar selama satu tahun di dalam kelas, namun bagi siswa yang tidak naik kelas tentunya berbagai pertanyaan muncul dari berbagai pihak mengapa anak ini kok bisa tinggal kelas.

guru menghitung nilai rapor

Berbagai pertimbangan guru dalam memberikan predikat naik dan tidak naik bagi siswa, baik dari segi keberhasilan belajar yang tentunya dilihat dari nilai siswa serta melihat dari tingkah laku serta kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar.

Lalu bagaimana cara yang bijak tuk menyemangati putra/putri atau adik2 kita bila mereka tidak naik kelas?

Berikut ini Tips bijak mengatasi anak yang tidak naik kelas yang saya dapatkan dari http://tipsanda.com:

1. Pindah Sekolah. Evaluasi kembali apa penyebab anak tidak naik kelas. Kalau memang pengaruh lingkungan di sekolah lama sangat buruk, sebaiknya anak memang pindah sekolah saja. Akan tetapi bukan dengan menaikkan ke kelas berikutnya alias dikatrol yang sama saja tidak mendidik anak.

2. Genjot Semangat Belajar. Cari tahu dulu akar penyebabnya mengapa anak tidak naik kelas. Apakah karena faktor kecerdasan anak yang memang kurang, kondisi fisiologis (semisal anak punya penyakit tertentu yang terbilang berat), pola pengajaran guru, atau pola pengasuhan orang tua (seperti kelewat otoriter atau malah terlalu cuek). Boleh saja anak diikutkan les ini-itu asalkan memang itu menjadi kebutuhannya untuk meningkatkan kemampuan akademis.

3. Periksa ke ahlinya. Yang dimaksud, dokter atau psikolog. Anak tidak naik kelas bisa karena faktor kecerdasannya, kondisi fisik, kematangan emosi maupun pengaruh lingkungan. Sebaiknya konsultasikan dulu ke psikolog untuk melihat taraf kecerdasan dan kematangan emosionalnya.

4. Diskusi Dengan Guru. Meminta guru untuk memberi kesempatan kepada anak untuk duduk di kelas yang lebih tinggi, sebaiknya tidak dilakukan. Jika kemampuan anak memang terbatas tapi tetap dipaksakan untuk naik kelas, bisa-bisa anak kian tertekan sementara prestasinya tetap tidak membaik.

5. Menyusun Kembali Jadwal Harian Anak. Contohnya, main play station, sepedaan dan nonton TV dikurangi. Untuk kasus tinggal kelas, mengurangi kesenangan bisa saja dilakukan. Namun ada yang mesti diperhatikan, yakni tidak memberikan hukuman fisik, dan pembenahan jadwal harus disertai dengan penjelasan logis, dan harus ada batas waktunya. Berikan reward begitu anak melakukan hal-hal yang sesuai harapan Anda.

Suasana Kesederhanaan Penerimaan Rapor di Sekolahku


 

28 Komentar (+add yours?)

  1. Sriyono Semarang
    Jun 25, 2011 @ 15:16:21

    ayo belajar yang rajin biar naek kelas…

  2. veera
    Jun 25, 2011 @ 15:00:38

    alhamdulillah, saya sebagai murid belom pernah dan insyaallah gak akan tinggal kelas.. amieen:mrgreen:

    • kangmartho
      Jun 25, 2011 @ 17:08:57

      bagus3x (sambil menepuk-nepung punggung vera๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† :lol:)

  3. Irawan
    Jun 25, 2011 @ 10:22:59

    dulu waktu SD saya punya temen gak naik kelas, pdhl orangnya pinter, bisa masuk SMP favorit, apa pinternya orang bisa muncul belakangan?

    • kangmartho
      Jun 25, 2011 @ 13:28:25

      apa pinternya orang bisa muncul belakangan?
      saya dulu pernah g naik kelas kok mas, g tahu kenapa
      tapi sekarang ya bisa jadi guru kok ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜†

  4. TuSuda
    Jun 24, 2011 @ 16:40:54

    ya Kang, ada tanggung jawab moral juga dari pihak keluarga bersama sekolah agar anak didik bisa berhasil dalam studinya.
    SALAM… 8)

  5. julie
    Jun 24, 2011 @ 10:36:17

    ini adalah postingan paling keren yang kubaca hari ini
    ide posting yang tak biasa
    mudah2an anakku nantinya tak pernah tinggal kelas
    karena sulit ya kang mengembalikan kepercayaan diri seorang anak

    • kangmartho
      Jun 24, 2011 @ 17:18:46

      masak sih mbak๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ˜ฎ
      bila ortunya seperti embak yg banyak belajar dari media terutama internet saya yakin putra/i nantinya sukses dalam belajar dan berprestasi tentunya

  6. Kakaakin
    Jun 22, 2011 @ 18:47:26

    Hmm… cenderung yang sering kejadian sekarang adalah pindah sekolah ke swasta dan kemudian bisa naik kelas๐Ÿ˜ฆ

    • kangmartho
      Jun 24, 2011 @ 18:19:16

      kebanyakan memang seperti itu.. namun apakah ini bisa meningkatkat prestasi belajar anak? ini yg jadi pertanyaan

  7. citra w hapsari
    Jun 22, 2011 @ 08:58:25

    hohohoooo,..
    nasehat ini akan saya simpan,meski nanti pada masanya saya punya anak mungkin sdh tdk relevan,..tapi saya akan berusaha membaginya juga,..
    terimakasih tipsnya om,..

    • kangmartho
      Jun 24, 2011 @ 18:22:54

      tip ini juga akan saya simpan…
      karena saya yakin pasti suatu saat nanti akan berguna bagi kita

  8. Siti Fatimah Ahmad
    Jun 21, 2011 @ 21:48:05

    Assalaamu’alaikum wr.wb, Kang Martho…

    Sangat lain ya sistem pendidikan di Indonesia dengan Malaysia.
    Malaysia tidak mengamalkan sistem naik kelas ini, semua anak2 akan terus naik kelas tanpa melalui ujian naik kelas. Malaysia menggunakan ujian semester di mana ujiannya berlaku 6 bulan sekali. Ujian ini menilai prestasi pelajar pada setiap akhir semester.

    Semoga anak2 yang tinggal kelas ini bisa meneruskan kelas pada masa depannya dan bakti guru juga kerjasama ibu bapa sangat diperlukan bagi kebaikan anak2 ini.

    Salam mesra dan hormat dari saya di Sarikei, Sarawak.

    • kangmartho
      Jun 24, 2011 @ 17:15:58

      Wa’alaikum salam Bunda..
      dari yang tertera di komentar bunda, saya jadi tahu ternyata kurikulum di Malaysia memang lain dengan indonesia,
      yang jadi pertanyaan saya, lantas bagaimana cara untuk mengukur siswa layak menerima materi selanjutnya bila tidak ada kenaikan Bund??

      salam hormat dari pegunungan Jenggrong

      • Siti Fatimah Ahmad
        Jun 28, 2011 @ 10:09:01

        Assalaamu’alaikum wr.wb, Kang Martho…

        Benar, banyak kelainan antara sistem pendidikan Malaysia dengan Indonesia.

        Di Malaysia, terdapat jenis-jenis ujian dan penilaian yang dilakukan oleh para guru ke atas pelajarnya dalam setiap darjah kemasukan mereka. Guru bertanggungjawab memastikan pelajar dinilai dengan saksama melalui ujian yang dilaksanakan. Berikut adalah ciri-ciri utama ujian dan penilaian yang dilaksanakan di Malaysia.

        Ujian pencapaian – ujian yang digubal oleh guru bagi mengukur sejauh mana sesuatu kumpulan murid atau seseorang murid berkenaan telah menguasai sesuatu topik yang telah dipelajar.

        Ujian kecerdasan โ€“ disebut juga ujian mental – mengukur perbezaan di antara individu.

        Ujian prestasi – memerlukan para pelajar membuat beberapa tugasan lain sebagai tambahan. Penekanan yang diberikan kepada kebolehan murid-murid melakukan sesuatu tugasan.

        Ujian diagnostik – mengenal pasti masalah yang berlaku dalam pengajaran dan pembelajaran dan menentukan punca-punca yang menyebabkan masalah.

        Ujian kecekapan – digunakan oleh seseorang guru untuk menguji kebolehan atau kecekapan seseorang murid melaksanakan sesuatu tugas atau aktiviti.

        Ujian bakat – Ujian yang dikaitkan dengan aktiviti membuat telahan ke atas calon tentang bakat atau keistimewaan yang dimiliki.

        Ujian personaliti – untuk mengenal pasti potensi diri, personaliti, tahap kemahiran, keupayaan , minat, nilai dan sikap seseorang murid.

        Ujian rujukan Norma โ€“ keputusan ujian seseorang calon dibandingkan dengan dengan keputusan pelajar yang lain yang mengambil ujian yang sama sama ada dalam kelas yang sama atau berlainan.

        Ujian rujukan kriteria โ€“ maklumat atau prestasi pelajar dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan tanpa melibatkan perbandingan antara pelajar.

        Penilaian formatif โ€“ penilaian berterusan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Memberikan maklumat sejauhmana pembelajaran telah dikuasai.

        Penilaian sumatif โ€“ dikaitkan penilaian pada akhir penggal atau semester. Memberikan nilai yang membezakan antara peringkat pencapaian pelajar.

        ********

        Setelah mengikuti semua ujian dan dinilai pada setiap darjah/tingkatan,pelajar akan diuji di seluruh Malaysia secara serentak dengan peperiksaan berikut:

        UPSR (Ujian Penilaian Sekolah Rendah) bagi murid sekolah Rendah/Dasar – yang hanya diduduki oleh pelajar darjah 6 sahaja sebagai tamat sekolah di sekolah rendah sebelum memasuki sekolah menengah rendah.

        PMR (Peperiksaan Menengah Rendah)bagi pelajar Sekolah Menengah Rendah (Tingkatan 1 hingga 3. Peperiksaan ini hanya diduduki oleh pelajar Tingkatan 3 sahaja sebelum naik ke Tingkatan 4.

        Lulus dan gagal tetap diterima naik tingkatan tetapi diberi pilihan pengkhususan sama ada Sains, Bahasa Melayu atau Vokesyional. Sijil PMR tidak layak untuk dijadikan asas mencari pekerjaan.

        – Undang-undang pendidikan di Malaysia mensyaratkan kanak-kanak mesti berada di sekolah sehingga umur 17 tahun. Hal ini bagi menggelak anak-anak tercicir pelajaran dan terbiar dari aspen pendidikan minda.

        Kerajaan Malaysia akan menghukum penjara atau mendenda ibu bapa yang tidak menyekolahkan anak-anak mereka. Malah yuran sekolah yang murah hanya diterima sekali setahun sahaja. Jika ada keluarga yang tidak mampu membayar yuran, pihak sekolah akan membantu melalui saluran Persatuan Ibu Bapa dan Guru.

        SPM (Sijil Pelajaran Malaysia)untuk pelajar menengah atas (Tingkatan 4 dan 5)- hanya diduduki oleh pelajar Tingkatan 5. Inilah ujian penentu terbesar bagi pelajar sama ada lulus atau tidak. Sijil SPM layak untuk dijadikan asas mencari pekerjaan atau menyambung pelajaran ke tingkatan 6 juga ke Universiti. Lulus ata gagal dikira dari ujian ini kerana pelajar sudah berusia 17 tahun.

        Biasanya sebelum semua peringkat ujian besar ini berlaku, pihak sekolah akan mengadakan kelas tambahan kepada semua pelajar di mana bayaran diberi kepada guru oleh pihak kerajaan Malaysia. Demikianlah penjelasan saya serba sedikit tentang sistem ujian dan penilaian di Malaysia. Wallahu’alaam.

        Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.

        • kangmartho
          Jun 28, 2011 @ 18:03:21

          Alhamdulillah Bunda…
          saya jadi tambah ilmu kalau begini dan pengalaman tentunya, seperti kata orang “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”
          Salut sama Bunda atas penjelasannya

  9. aryadevi
    Jun 21, 2011 @ 12:05:25

    masih terkait dengan kultur orang kita dalam menghadapi kegagalan,….mungkin kita tidak sampai se-ekstrim Jepang…yg begitu keras dalam mendisplinkan diri sendiri, sehingga itu mejadi harga diri..dan akibat jika gagal ..cenderung harakiri….
    orang kita cenderung flamboyant….^_^….

    • kangmartho
      Jun 21, 2011 @ 14:18:50

      semoga kita jangan sampai “suicide” segala deh…
      kan kata orang kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda

  10. guru kampung
    Jun 20, 2011 @ 21:33:12

    ๐Ÿ˜ฏ ๐Ÿ˜ฏ ๐Ÿ˜ฏ
    kalau tidak naik kelas berarti ada dua kemungkinan
    1. siswa itu cinta ke guru walikelasnya
    2. gurunya cinta ke anak tersebut
    heeeeeeeeeeeeeeeeeeeee …… ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜ฅ
    yang jelas kkm harus diturunkan?????
    atu guru di GENJOT biar SEMANGAT MENGAJAR + bagus guru ditambah 2 sertifikasi : 1 dana dari DEKON dan 1 dana dari DAU, SETUJU???โžก

    • kangmartho
      Jun 20, 2011 @ 22:47:01

      weleh weleh sipp deh dengan kemungkinannya :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: saya g kepikiran sampai segitu…….. 2 idenya itu masuk akal juga
      ………….
      biarpun digerojok dengan dana apa saja bila sang guru kurang peduli terhadap anak didik apalah artinya,…….. balik maning ke jorgan Suara PGRI guru memang harus smart dan peduli ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜†

      • ayomendidik
        Jun 23, 2011 @ 09:59:58

        biar lebih peduli kami tunggu polling tentang MSP (majalah Suara PGRI)…๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

  11. pututik
    Jun 19, 2011 @ 20:33:16

    betul pak, jangan sampai anak hanya dicekoki nilai harus bagus ini itu, tapi orang tua males memberi tanggapan ketika ada pertanyaan dari si anak

    • kangmartho
      Jun 20, 2011 @ 10:05:38

      terkadang orang tua terlalu menuntut kepada anak dan mengenyampingkan penghargaan terhadap hasil jerih payah anak

  12. Mabruri
    Jun 19, 2011 @ 15:55:41

    itu acara makan2 setiap kenaikan kelas selalu seperti itu ya pak??
    kalau iya, brarti sama dong waktu saya SD dulu…๐Ÿ˜€

    • kangmartho
      Jun 19, 2011 @ 17:43:54

      bener mas.. setiap akhir semester biasanya anak2 selalu meminta diadakan acara makan2, terkadang sekolah memberikan lauk-pauk tuk perbaikan GIZI mereka (maklum dipegunungan jauh dari pasar jadi jarang2 makan ikan apalagi daging)

%d blogger menyukai ini: