Pacu Kreatifitas Anak dengan Memafaatkan Buku Tulis Bekas

Tulisan ini terinspirasi tatkala kemarin setelah habis berbelanja keperluan anak untuk sekolah. Ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Coba bandingkan dengan ketika orang tua kita masih sekolah, yang mana siswa menulis masih menggunakan sabak. Caranya cuma digoreskan saja, karena bahan sabak ini dari batu granit. sehabis nulis hasil tulisan siswa tadi dinilai sama guru. Nilainya ditulis dengan kapur dan ditempelkan ke pipi siswa. Untuk menunjukkan ke orang tua bahwa siswa dapat nilai bagus (kalau sekarang bakal diumpetin jika dapat nilai jelek). Kalau sudah selesai menulis , siswa mencuci sabaknya untuk digunakan kembali. Berarti daya ingat orang jaman dulu tuh kuat abisss yah. Semuanya langsung disimpan di otak.

gambar sabak

Dalam suasana ajaran baru di jaman sekarang lain lagi, anak-anak meminta semuanya serba baru, tas baru, bolpoin/pensil baru, buku tulis baru walaupun buku tulis yang dipakai di kelas sebelumnya hanya di terluang sedikit sisanya masih banyak yang kosong (ini dikarnakan anak banyak mengerjakan LKS) buku tulis itu sudah tidak dipergunakan lagi…paling-paling setelah itu dijual ke tukang loak.

Daripada mubazir seperti itu kita bisa mempergunakan buku tulis yang telah tidak terpakai itu menjadi barang yang berguna setidaknya bagi mereka sendiri salah satu misal buku tulis yang masih kosong diambil dan dibendel dengan yang lain untuk dijadikan tempat menhitung (bahasa jawa: ijiran). ini semua dapat dijadikan pendidikan psikologis bagi anak kita untuk bisa hidup hemat dan bisa menciptakan benih-benih kreatifitas mereka (iin supriyanti)

(tulisan ini merupakan salah satu dari beberapa tulisan istri saya yang “dititipkan” di beberapa blog saya, dan ada yg sempat menjadi nominasi diΒ  writingcontest pestablogger 2010)

Iklan

28 Komentar (+add yours?)

  1. Mas Coro
    Jul 17, 2011 @ 14:20:55

    πŸ˜€ πŸ˜€

    Wah kreatif ya….salam kenal kang

  2. Siti Fatimah Ahmad
    Jul 08, 2011 @ 09:42:27

    Assalaamu’alaikum wr.wb, kang Matho…

    Sampaikan rasa kagum saya pada isterinya KangMartho yang bisa menulis dengan baik akan posting ini. Sangat baik dan perihatin sekali. Semoga hasil tulisannya bisa memacu kesedaran banyak pihak tentang pendidikan anak-anak. Sampaikan salam manis saya buat beliau dan teruskan usaha menulis untuk manfaat bersama. πŸ˜€

    Bener tu, saya setuju tentang dua zaman yang sangat berbeda antara zaman kita (hehehe…apa kita sezxaman ya kang) dengan zaman anak kita. Saya juga sempat menggunakan papan batu (sebutan di Malaysia) ketika di darjah satu dan dua. setelah masuk darjah 3, barulah menggunakan buku tulis bagi tugasan yang diberi. Tika itu tidak ada buku kerja seperti sekarang. Lalu buku tulisnya penuh dan harus ditambah lagi kalau sudah habis bukunya.

    Ternyata kini, anak-anak sekolah kurang dimanfaatkan dengan buku tulis karena adanya buku kerja. hal ini satu pembaziran. Walau bagaimanapun, buku yang sudah diguna dan masih banyak kosongnya, boleh dijadikan bahan untuk mengira atau contengan.

    Semoga anak-anak bisa menghargai ilmu dan jasa orang tua dalam menyediakan sumber bahan persekolahannya. Menghargai guru yang memberi ilmu dan berbakti kepada negara apabila berjaya nanti.

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak. πŸ˜€

    • kangmartho
      Jul 09, 2011 @ 14:03:19

      Wa’alaikumussalam Bund
      sengaja saya pribadi kasih komentar ini agak terlambat, hal ini karena minta izin dulu pada si empunya tulisan.
      sangatlah tersanjung sekali bila dengan tulisan sesederhana ini sampai2 Bunda terkagum2, ini hanya tulisan reportase kaum hawa aja mengenai kegelisahan hati mereka tentang kondisi negeri ini.
      semoga anak-anak kita bisa hidup sederhana, dan tidak terpengaruh budaya konsumtif Amien

      salam

  3. pksumbersuko
    Jul 08, 2011 @ 07:59:51

    salam kenal juga untuk kang martho, TETEP WASPADA!!! 😯 πŸ˜‰

  4. Kakaakin
    Jul 06, 2011 @ 12:12:34

    Sayang banget ya, Pak. Karena ada pelajaran yang tak terlalu banyak menulis.
    Alhamdulillah buku bekas di rumah saya selalu dipake ibu untuk membuat buku bon langganan2 beliau πŸ˜€

    • kangmartho
      Jul 06, 2011 @ 12:31:26

      senang sekali punya Bunda yg kreatif gitu, berarti putrinya juga tambah kreatif πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

  5. dhila13
    Jul 05, 2011 @ 10:05:42

    waahhh kang… bener banget tuh.. setuju kang!

  6. saipuddin
    Jul 03, 2011 @ 22:10:41

    benar bgt, jg dg hemat kertas berarti kita jg mengurangi globalisasi, karna kertas kan trbuat dr pohon.

  7. horizonwatcher andrebp
    Jul 03, 2011 @ 15:55:30

    Wah baru tahu zaman dulu nilai siswa ditempel di pipinya? Kenapa bapakku gak pernah cerita ya? Sebuah tulisan yang bagus dan inspiratif. Salam kenal

  8. Mbah Jiwo
    Jul 03, 2011 @ 15:55:21

    sabak itu iPad masa lampau pak he he he πŸ˜†

  9. bchree
    Jul 03, 2011 @ 08:21:53

    wah kompakan yach…. sama2 penulis hebat πŸ˜†
    ………………..
    kalau buku bekas emang harus dimanfaatkan juga, ada cari lain cara memanfaatkan yaitu untuk tempat menghitung bagi pelajaran matematika.
    tidak lupa orang tua juga harus menasehati agar tidak bergaya hidup mewah.
    >>>>>>>>>>>>>
    warta lumajang blognya akang juga??

  10. aryadevi
    Jul 03, 2011 @ 08:02:41

    kebiasaan yg baik untuk di tularkan pada gaya anak sekarang, dari pengalaman sendiri, disekolah, para siswa didapati selalu menyederhanakan perangkat belajar mereka, seperti buku tulis, alat tulis, buku materi pelajaran dll. Dikatakan “menyederhanakan” karena sering kali tertinggal di ruang kelas/lab. dan setelah itu tidak ada niat untuk mencari/menanyakan barang yg tertinggal tersebut (dianggap hilang dan beli yang baru)
    ya mereka rata-rata anak orang berpunya, jadi dari sini bisa dilihat bagaimana gaya hidup praktis sudah merasuk.

  11. giewahyudi
    Jul 02, 2011 @ 12:09:49

    Kadang kreatifitas memang muncul dari keterbatasan, Pak..

  12. Reza Fauzi
    Jul 01, 2011 @ 08:07:14

    iya sayang-sayang ya kalau buku begitu saja langsung dibuang, adik saya juga yang masih belajar ngomong saya kasih kertas untuk nulis-nulis walaupun tulisannya gatau apaan wkwkwk

    • kangmartho
      Jul 01, 2011 @ 15:02:25

      wah pembelajaran sejak dini, bagus tuh namun hati2 nanti dimakan oleh adik πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜†

  13. Mabruri
    Jun 30, 2011 @ 16:53:00

    bener banget tuh pak, dulu waktu msh sekolah juga saya sering ngumpulin sisa2 lembaran yang masih bagus dan dijilid lagi jadi buku… πŸ˜€

    Istrinya ga juga bikin blog pak?? apa saya yang ga tau yah. hehee

    • kangmartho
      Jun 30, 2011 @ 21:39:13

      setali tiga uang… dulu saya juga begitu..
      istri saya g punya kesempatan tuk ngeblog mas, ngurusin rumah tangga aja udh kuwalahan, namun punya smangat dan telaten menulis (ini yg membuat ku makin sayang πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜† )

  14. Merliza
    Jun 30, 2011 @ 16:07:22

    kebetulan saya juga tengah menjalankan hal serupa mas πŸ™‚ tuk keponakan saya di rumah… anak2 memang perlu di pacu kreativitasnya.. setuju saya!!

%d blogger menyukai ini: