Bahasa Indonesiaku Sayang


Fenomena bahasa alay sudah cukup memperburuk ranah EYD bahasa Indonesia dan juga bahasa Indonesia prokem/informal yang diakui keberadaannya. Bahasa alay ini biasanya menggabungkan huruf besar dan kecil dalam satu kata, menggabungkan huruf dan angka untuk membentuk kata, menghilangkan/menambahkan satu huruf sebuah kata, atau mengubah susunan kata tetap dengan paduan huruf-huruf yang seharusnya tidak digabungkan. Misalnya, “Ea, 4KuuCh 1tUUch ug4 Ch1nt4 k4mUwH.” Silakan Anda baca sendiri. Sakit mata, bukan?

Kehadiran para penyanyi dengan pengucapan salah makin menambah corengan di wajah luhur bahasa Indonesia. Para penyanyi yang merupakan public figure atau bisa jadi role model bagi para penggemarnya secara tidak langsung berperan penting dalam menggiring penggemarnya untuk ikut-ikutan mengucapkan satu kata bahasa Indonesia dalam pengucapan yang salah. Contohnya saja, coba Anda dengarkan The Virgin atau Mulan Jameela menyanyi. Mungkin bagi banyak orang mereka terdengar bagus. Ya, secara musikalitas dan suara mereka memang memiliki kualitas. Namun, perhatikanlah lagi. Mereka melakukan banyak kesalahan dalam mengucapkan lirik indah lagunya.
“Hatimu seksi, itu terbukti …” lirik lagu ‘Makhluk Tuhan yang Paling Seksi’ yang inspiratif ini akan sampai di telinga kita seperti ini: “Hachimu shekshi ichu cherbukchi…” Jujur saja, aku sungguh risih dan capek mendengarnya. Padahal lagunya bagus, tetapi belum sampai setengahnya kudengarkan, aku lelah. Belum lagi saat The Virgin menyanyi. Mereka cantik dan bertalenta. Hanya saja, aku jadi tidak suka karena mereka memiliki artikulasi yang sengaja disalah-salahkan. Entahlah apa tujuannya. Lirik “Rasa ini sungguh tak wajar…”, maka akan terdengar layaknya: “Rasha ini shungguh chak wajhyar…”

Bukan hanya The Virgin dan Mulan Jameela. Sekarang banyak penyanyi yang seperti itu. Penyanyi yang menggolongkan suara /s/ seperti /s/ pada kata ‘rasa’ ke dalam golongan palato-alveolar fricatives. Seharusnya, suara /s/ ini menempati golongan alveolar fricatives bersama-sama dengan suara /z/ seperti di kata ‘zaman’. Sementara itu, suara-suara yang termasuk palato-alveolar fricatives adalah suara /sh/ dalam kata bahasa Inggris ‘she’ dan suara /zh/ dalam kata bahasa Inggris ‘pleasure’. Tidak hanya suara-suara itu yang disalahgolongkan oleh para penyanyi, suara /p/, /t/, / k/ pun iya. Terutama suara /t/ dan /k/. Artikulasi suara /t/ seperti dalam kata ‘tak’ seharusnya merupakan golongan suara alveolar unaspirated. Namun, para penyanyi kini ‘memplesetkannya’ ke dalam golongan suara /ch/ palato-alveolar fricatives seperti dalam kata bahasa Inggris ‘chair’, bahkan ada artis yang menggunakan suara /ch/ palato-alveolar fricatives ini untuk mengartikulasikan kata ‘becek’, ‘cekcok’ atau ‘cicak’. Jadi, kata-kata tersebut akan terdengar ‘bechek’, ‘chekchok’, dan ‘chichak’. Terasa capek, kan? Selanjutnya, nasib yang sama pun dialami suara /k/. Suara /k/ yang seharusnya velar unaspirated dalam kata bahasa Indonesia seperti dalam kata ‘kamu’, kini berubah menjadi velar aspirated di mulut para penyanyi negeri ini sehingga kata ‘kamu’ akan terdengar ‘khamu’.

Aku khawatir cara-cara mengucapkan dan menuliskan bahasa Indonesia ini akan terus berlanjut hingga penerus bangsa di masa depan. Aku cemas bahasa Indonesia akan kehilangan pembicaranya. Aku khawatir, jika terus begini bahasa Indonesia akan sia-sia digaungkan sebagai salah satu isi Sumpah Pemuda. Tidak bisakah para kaum muda sekarang ini menggunakan bahasa Indonesia yang sesungguhnya? Maksudnya, bukan berarti harus tumplek plek dengan EYD saat bercakap-cakap. Namun, ucapkanlah dengan artikulasi yang benar. Saat mengetik pesan singkat atau surat kepada seorang kawan, gunakanlah bahasa Indonesia yang benar. Tidak disalahkan kalau Anda menulis: “Iya, bener banget tuh.”; atau mengetik pesan singkat: “Ak ga bs k rmh km.” Asal semuanya masih bisa dibaca dan diartikan dengan jelas. Tidak apa-apa bila menulis tidak bisa sesuai dengan EYD, namun ketahuilah hal-hal sederhana dari aturan EYD tersebut. Misalnya, mengetahui kapan awalan di- itu dipisah atau disambung dengan kata yang mengikutinya, mengerti kapan awalan me- akan menjadi mem-, meny-, meng-, men-, dan lain sebagainya. Begitu pula saat mengucapkan bahasa Indonesia. Jika harus bersuara /t/, maka ucapkanlah dengan suara /t/ utuh, bukan /ch/. Jika suatu kata mengandung suara /s/, maka ucapkanlah dengan suara /s/ yang penuh juga. Aku bahkan mengakui bahwa tulisanku ini jika dilacak dengan buku EYD pasti banyak sekali kesalahannya. Tetapi, setidaknya aku telah berusaha menggunakan dan menuliskan yang benar. Aku mengetahui bahwa setelah kata ‘namun’ aku harus membubuhkan tanda koma jika kata ‘namun’ tersebut mendahuli kalimat. Jika ia berada di belakang kalimat maka tanda koma yang mendahuluinya. Aku tahu aku harus menggabungkan dua kata dasar yang diapit oleh awalan dan akhiran seperti kata ‘disalahgolongkan’ atau ‘mempertanggungjawabkan’.

Akhir kata aku ingin mengutip slogan yang tertera di buku karangan Arswendo Atmowiloto yang berjudul ‘Sirih untuk Cucu’, tahun 1986: ACI (Aku Cinta Indonesia). Ya, aku cinta Indonesia terlepas dari apapun itu. Hanya ini yang bisa kuberikan untuk Indonesia: sebuah renungan akan bahasa Indonesia yang semakin tua, namun (seperti) mengalami kemunduran.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2010!

Dukung terus bahasa Indonesia!
Sumber :di sini

Iklan

Ketika Bahasa Daerah Terdengar Asing di Telinga


Praktisi pendidikan bahasa Sutjahjo Gani mengemukakan, saat ini banyak kosakata Jawa yang sudah terdengar asing di telinga, terutama generasi muda.

Beberapa contoh kosakata Jawa tersebut, antara lain, “edhum” yang maknanya merupakan teduh, “lalis” yang artinya mati, juga “wirang” yang artinya malu.

“Saat ini, banyak generasi muda yang merasa asing dengan bahasa daerahnya (Jawa). Bahkan, mereka ada yang tidak tahu,” kata Sutjahjo mengungkapkan.

Ia merasa menyesal dengan kejadian itu. Sebagai seorang warga Jawa, ia berharap dapat melestarikan budaya daerah, termasuk dari sisi bahasa. Bahkan, kata dia, saat ini masyarakat Indonesia lebih senang menggunakan bahasa asing yang dicampur dengan bahasa nasional, padahal itu tidak selayaknya.

“Saat ini, banyak pejabat maupun tokoh penting yang justru senang untuk mencampur bahasa, seperti Indonesia dengan asing, yang jika digabungkan menjadi lucu,” ucapnya sambil terbahak.

Dengan kondisi tersebut, ia menilai, saat ini keberaadaan Bahasa baik Indonesia, Jawa, sudah terpengaruh kebudayaan global, dan sudah mulai terjadi pergeseran.

Ia mencontohkan, beberapa halaman untuk iklan, banyak yang tertulis kalimat “space for rent”, padahal bisa diganti menjadi Bahasa Indonesia “halaman untuk dijual”.

“Kalau saya melihatnya, saat ini sudah mulai ada penjajahan secara kapitalisme dalam bidang bahasa. Yang pertama adalah bahasa nasional, namun imbasnya kepada bahasa daerah,” kata dosen dari Universitas Nusantara PGRI Kediri tersebut.

Bahkan, kata dia, saat ini keberadaan bahasa daerah, seperti Jawa, juga sudah mulai ada pergeseran, dari semula mayor menjadi minor. Selain pengaruh orang tua yang tidak membiasakan mengenal bahasa daerah kepada anaknya, juga guru pengajar yang tidak menguasai materi.

Hal itu, kata dia, berdampak sangat besar. Beberapa contohnya, seperti pelajaran Bahasa Jawa, seharusnya dikenalkan mata pelajaran tentang “nembang” atau menyanyi menggunakan Bahasa Jawa. Namun, karena guru yang bersangkutan tidak bisa “nembang”, akhirnya mata pelajaran tersebut dihindari.

Selain itu, kata dia, beberapa materi bahasa daerah juga dipandangnya hanya aplikasi, atau yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Murid tidak dikenalkan untuk mengetahui secara mendetail, tentang beberapa materi atau bahasa yang sudah ada sejak dulu.

Ia khawatir, dengan kondisi tersebut, akan berdampak buruk, terutama bahasa daerah, karena beberapa kosakata akan hilang. Bahkan, para generasi muda, tidak mengenal bahasa daerahnya sendiri.

Bahasa daerah di Kediri dengan daerah lain, kata dosen yang saat ini berupaya meraih gelar Doktor (S-3) di Universitas Malang (UM) tersebut, juga unik. Hal itu disebabkan, Kediri termasuk daerah Mataraman (Jatim belahan Barat). Bahasa daerah di Kediri dan sekitarnya, juga lebih halus ketimbang daerah lain.

Sayangnya, untuk literatur mengenai bahasa tersebut, ia mengaku belum pernah melihat. Hanya ada diskusi-diskusi rutin yang dilakukanya dengan beberapa pecinta kebudayaan yang saat ini tergabung dalam Komunitas Edhum Kediri.

Yang ada saat ini, justru beberapa literatur buku yang menjelaskan tentang etika Bahasa Jawa, di antaranya Etika Jawa Sebuah Analisis Falsafi Tentang Kebijakan Hidup Jawa yang ditulis Frans Magnis Suseno tahun 1985, yang diterbitkan PT Gramedia, Tingkat Tutur Bahasa Jawa, yang ditulis oleh Soepomo Pudjosudarmo tahun 1979, serta beberapa judul lainnya.

Sutjahjo mengungkapkan, sebenarnya, Bahasa Jawa itu sama dengan Bahasa Indonesia dari segi tingkatanya, seperti untuk Bahasa Jawa ada “ngoko”, “kromo”, “kromo inggil”, maupun lainnya. Hal itu, juga terlihat dari Bahasa Indonesia, mempunyai tingkatan yang berbeda, ketika bertemu dengan mereka yang umurnya sama, maupun yang lebih tua.

“Sayangnya, untuk Bahasa Jawa lebih banyak ditinggalkan, sehingga banyak kosakata yang dilupakan,” paparnya.

Bahkan, ia mensinyalir, saat ini terdapat sekitar 50 persen Bahasa Jawa sudah mulai hilang, karena jarang digunakan. Ia khawatir, jika hal itu dibiarkan, bahasa yang merupakan peninggalan sejarah, juga akan punah.

Ia berharap, pemahaman sebagai upaya untuk menyadarkan bahwa identitas budaya itu sangat penting. Sayangnya, hal itu masih belum disadari dengan baik, dari lembaga pendidikan, maupun dari pemerintah.

Padahal, untuk penggunaan bahasa daerah, selain sebagai identitas diri, juga menekankan budi pekerti, karena di dalamnya, para pemuda diberi pendidikan, untuk bagaimana bisa menghargai baik kepada satu tingkatan maupun mereka yang lebih tua.

“Seharusnya, pemerintah daerah berperan aktif untuk tetap melestarikan bahasa daerah. Dengan itu, besar kemungkinan bahasa daerah tidak akan hilang,” katanya menegaskan.

Ia juga menilai, identitas Bangsa Indonesia saat ini masih lemah, dan belum bisa menghargai budaya sendiri. Hal itu seperti beberapa kasus yang terjadi, yaitu kasus Reog Ponogoro, kain batik, maupun beberapa kasus lainnya.

Berbagai kebudayaan dari dalam negeri baru akan diakui, setelah terjadi pengakuan maupun penghargaan dari bangsa asing.

Kurang mendukung
Kurikulum Pendidikan Bahasa Jawa terutama di wilayah Jawa Timur, khususnya Kediri, juga kurang begitu mendukung untuk melestarikan bahasa daerah. Bahkan, dalam pelajaran, guru juga lebih menekankan kepada murid untuk menggunakan bahasa sehari-hari, ketimbang berusaha mengenalkan beberapa bahasa daerah lainnya.

Sehingga, tidak ayal lagi, banyak murid yang merasa bahasa daerah itu sulit. Bahkan, ada beberapa di antaranya yang tidak begitu suka, dan memilih mata pelajaran lainnya.

Ironisnya, guru bahasa daerah banyak yang bukan lulusan perguruan tinggi bersangkutan, melainkan dari disiplin ilmu yang berbeda. Saat ini hanya terdapat delapan guru bahasa daerah yang memang lulusan dari sekolah bahasa daerah, sementara sisanya dari disiplin ilmu yang berbeda.

Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kota Kediri, Hartiningsih mengaku, ia tidak ingin terlalu menekan kepada anak didiknya, sehingga dalam pemberian pembelajaran di sekolah, ia lebih menekankan penggunaan bahasa sehari-hari.

“Ada beberapa murid yang merasa bahasa daerah sulit, jadi, ketika saya meminta mereka untuk membuat artikel bahasa daerah, saya membiarkan mereka untuk menggunakan bahasa sehari-hari,” katanya mengungkapkan.

Ia mengaku, sudah berupaya untuk tetap mengenalkan kepada anak didiknya, tentang bahasa daerah. Selain digunakan untuk kegiatan sehari-hari, ia juga menekankan bahasa daerah itu tidak sulit.

Ia juga berharap, porsi bahasa daerah bukan hanya menjadi muatan lokal saja, melainkan bisa lebih. Sayangnya, hal itu belum tercapai. Bahkan, saat ini kurikulum untuk bahasa daerah di Jawa Timur belum diterapkan, sehingga pihaknya harus membuat kurikulum sendiri.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Umum (Kabid Dikmenum) Dinas Pendikan Kota Kediri, Heri Siswanto mengaku, saat ini memang untuk bahasa daerah hanya menjadi muatan lokal saja dalam pendidikan. Namun, pihaknya akan berupa semaksimal mungkin, untuk tetap melestarikan bahasa daerah, di antaranya dengan memperbaiki kurikulum yang ada.

Ia tidak ingin, bahasa daerah, akan kehilangan identitasnya, sehingga menjadi asing di telinga anak-anak. “Kami akan memperbaiki kurikulum yang ada, terutama untuk bahasa daerah. Kami tidak ingin, bahasa yang merupakan identitas budaya ini terdengar asing di telinga anak-anak,” tuturnya.

Bagi beberapa orang, bahasa daerah juga dinilai kurang memasyarakat. Tidak semua orang bisa memahami bahasa yang merupakan asli dari daerah ini. Bahkan, penggunaaan bahasa daerah dengan halus, banyak dilakukan dalam kegiatan upacara atau resmi (formal), seperti pengantin.

“Tidak semua orang mengetahui atau memahami bahasa daerah (Jawa). Bahkan, bahasa satu dengan lainnya juga tidak sama, walaupun artinya sama,” kata praktisi pendidikan bahasa, Sutjahjo Gani.

Ia mencontohkan, Bahasa Jawa “ora” di Solo akan lebih dipahami ketimbang kata “gak”, walaupun artinya sama yaitu tidak. Dan kata “tibo” akan lebih dipahami oleh orang Solo ketimbang “ceblok”, walaupun artinya sama, jatuh.

Bahkan, kata dia, penggunaan bahasa daerah secara halus, terutama di Kediri hanya digunakan dalam kegiatan tertentu, seperti upacara pengantin, maupun berbagai ritual lainnya (budaya). Sementara, untuk sehari-hari lebih digunakan bahasa daerah sehari-hari, seperti “ngoko” maupun “ngoko alus”.

“Bahkan, banyak saat ini dalam keluarga juga tidak dikenalkan untuk ‘boso’ atau menggunakan bahasa daerah. Lebih banyak yang menggunakan bahasa ‘ngoko’ atau bahasa sehari-hari, sehingga tidak ada bedanya berkomunikasi kepada orang yang seumur, maupun kepada yang lebih tua,” paparnya.

Ia menilai, saat ini penggunaan bahasa daerah kurang diminati. Hal itu dimungkinkan, sudah mulai ada penjajahan dari kapitalis, dengan masuknya bahasa asing, sehingga masyarakat lebih suka menggunakan bahasa asing, ketimbang mengakui identitas budaya sendiri.

Bahkan, ia juga menilai, peran media massa harus diperhatikan dalam masalah ini. Karena, dari hasil penelitian yang ia lakukan di beberapa daerah di luar Jawa, ketika meraih gelar S-2, ternyata banyak kosakata dari daerah yang masuk ke dalam bahasa jurnalistik.

Ia khawatir hal itu juga dapat merusak tatanan bahasa yang sudah ada, sebab, peran media juga sangat penting untuk tetap melestarikan bahasa, baik bahasa daerah maupun Indonesia.

Beberapa keluarga mengaku, menerapkan penggunaan bahasa untuk mendidik anak-anaknya tata krama. Namun, ada juga beberapa keluarga yang memang membiarkan mereka untuk berkomunikasi dengan caranya sendiri.

Seperti yang diungkapkan oleh Yuli (23), warga Kelurahan Banjaran, Kota Kediri. Ia mengaku, tidak pernah dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk menggunakan bahasa daerah halus dalam komunikasi sehari-hari.

“Kadangkala, saya biasa ‘boso’ (menggunakan Bahasa Jawa halus) kepada orang tua, juga kadang tidak. Kepada orang lain, saya pasti ‘boso’ meski tidak halus,” ujarnya.

Ia merasa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah itu, lebih halus dan lebih dekat ketimbang bahasa lainnya. Selain merupakan bahasa daerah, beberapa orang juga lebih mudah diajak berkomunikasi ketimbang bahasa lain.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Lisa (24). Ia bahkan mengaku, kepada orang tua tidak menggunakan Bahasa Jawa halus, melainkan “ngoko” atau biasa. Ia merasa lebih santai, ketimbang harus “boso” kepada orang tua.

“Saya sejak kecil tidak pernah diajarkan untuk ‘boso’ kepada orang tua, rasanya aneh jika hal itu dilakukan,” kata Lisa.

Membuat Orang/Anak Madura Tak Malu Berbahasa Madura


“Sama sekali tidak ada temuan yang membuat kita optimistis bahwa bahasa Madura akan dapat bertahan. Pasalnya, bahasa ini dicitrakan sebagai lambang dari keterbelakangan dan kegagalan,” demikian dinyatakan dosen Fakultas Sastra Universitas Jember Akhmad Sofyan.

Yang lebih memprihatinkan, kata Akhmad Sofyan, justru sikap malu berbahasa Madura terjadi pada kelompok muda terpelajar yang harusnya memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan melestarikan Bahasa Madura.

Kalaupun Bahasa Madura dipergunakan sebagai alat komunikasi, itu hanya terbatas di ranah domestik, dan jika mereka berkomunikasi di ruang publik maka yang digunakan adalah Bahasa Indonesia.

Menurut Ketua Dewan Kesenian Pamekasan (DKP) Syaifuddin Miftah, kondisi semacam itu nantinya jelas mengancam keberadaan Bahasa Madura. Padahal bahasa menunjukkan identitas budaya kelompok masyarakat tempat mereka tinggal.

“Sekarang ini memang sudah banyak orang Madura yang tidak paham tentang Bahasa Madura. Padahal etnik lain, seperti Jawa, Sunda dan Betawi berlomba-lomba untuk mempertahankan bahasa daerahnya,” kata “Bang Ndut” sapaan akrab Syaifuddin Miftah.

Ketua sementara DPRD Pamekasan Iskandar menyatakan, sebenarnya banyak hal yang membuat orang Madura enggan menggunakan Bahasa Madura sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Alasan itu, seperti adanya anggapan bahwa yang berbahasa Madura adalah kelompok akar rumput dan tidak berpendidikan. Sehingga para keluarga di Madura khususnya yang berpendidikan “berlomba-lomba” mengajarkan anak-anaknya berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Orang yang status sosialnya naik, terutama dalam bidang pendidikan, maka cenderung akan mengajari anak-anak berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia, bukan dengan Bahasa Madura.

“Kondisi semacam ini bukan hanya terjadi di wilayah Kabupaten Pamekasan ini, namun hampir semua kabupaten yang ada di Madura,” kata Iskandar.

Pola pikir yang semacam itu, sambung mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badko Jawa Timur ini, pada mulanya memang didasarkan pada fakta empirik bahwa masyarakat yang bisa berbahasa Indonesia adalah hanya kelompok terpelajar.

“Saya yakin, ketika semua masyarakat Madura ini nantinya sudah lebih maju, cara pandang seperti itu lambat laun akan hilang,” katanya.

Hanya, sambung dia, memang harus ada upaya menyeluruh, baik dari masyarakat Madura itu sendiri, lembaga pendidikan yang ada di Madura ataupun pemerintah kabupaten bagaimana berupaya melestarikan Bahasa Madura tersebut secara sistematis.

“Kalau dianggap perlu, pada hari-hari tertentu para pejabat diharuskan berbahasa Madura, termasuk kegiatan serimonial yang dilakukan Pemkab,” tuturnya.

Menurut Iskandar, dengan adanya kegiatan semacam itu, maka lambat laut paradigma yang tertanam di sebagian besar kalangan masyarakat Madura bahwa orang yang berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Madura merupakan orang tertinggal dan tidak berpendidikan, lambat laun akan terhapus dengan sendirinya.

Jalur pendidikan
Kongres I Bahasa Madura yang digelar di Kabupaten Pamekasan Desember 2008, akhirnya merekomendasikan supaya Bahasa Madura dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dan menjadi pelajaran muatan lokal yang wajib diajarkan kepada para siswa, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Mulai dari tingkat SD hingga SMA memang kami wajibkan Bahasa Madura sebagai pelajaran muatan lokal,” kata Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Menengah, Dinas Pendidikan Pamekasan, M Ramli.

Menurut Ramli, dalam sepekan, pelajaran untuk Bahasa Madura selama dua jam. Itu merupakan target minimal yang harus dilaksanakan oleh setiap sekolah.

“Lembaga pendidikan bisa menambah jika alokasi dua jam ini masih dirasa kurang, namun tidak bisa dikurangi,” katanya.

Kewajiban bagi masing-masing lembaga pendidikan mengajarkan siswa-siswinya Bahasa Madura, supaya bahasa itu tetap lestari dan orang Madura mengetahui bahasa daerahnya sendiri.

Sebab, sambung Ramli, akhir-akhir ini sudah banyak orang Madura yang kurang mengerti bahasa daerahnya, meski yang bersangkutan merupakan orang Madura asli.

“Hanya yang menjadi kendala saat ini, pengajar Bahasa Madura, ini bukan ahlinya dari segi pendidikan. Dalam artian, mereka bukan lulusan Bahasa Madura,” katanya.

Yang selama ini menjadi guru Bahasa Madura adalah guru-guru senior di masing-masing lembaga pendidikan dan memang mengerti tentang bahasa dan sastra Madura.

“Kalau buku-buku tentang Bahasa Madura di Pamekasan ini relatif memadai sebagai bahan pelajaran. Namun, tetap perlu ditambah sebagai pengayaan materi pelajaran,” paparnya.

Tidak hanya itu, pemerintah juga memberikan kebijakan, kepada para guru bisa menjadikan Bahasa Madura sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar di lingkungan sekolah.

Seperti yang disampaikan Kepala Seksi Pembinaan SMA di Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) R Eryanto kepada ANTARA di Pamekasan, saat memberikan pelatihan teknik penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).

“Yang penting materi pelajaran yang disampaikan oleh guru bisa cepat dimengerti oleh peserta didik,” kata Eryanto.

Malah, sambung dia, Depdiknas sangat mendukung upaya pelestarian bahasa daerah melalui dunia pendidikan, salah satunya seperti memasukkan bahasa daerah menjadi muatan lokal.

Kata Eryanto, pemerintah memang menyarankan agar bahasa yang digunakan sebagai pengantar mata pelajaran bahasa nasional, yakni Bahasa Indonesia.

Namun, jika fakta yang terjadi saat ini bahasa daerah justru terancam punah, maka menurut dia, tidak salah jika guru menggunakan bahasa daerah.

“Hemat saya, penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan tidak akan merusak tatanan pendidikan yang ada,” katanya.

Ia mencontohkan pelaksanaan pendidikan di Jepang. Di sana bahasa pengantar dunia pendidikan justru menggunakan bahasa daerah setempat. Hal itu berlaku bagi semua tingkatan pendidikan, mulai dari TK hingga perguruan tinggi.

“Termasuk untuk strata dua dan strata tiga kalau di Jepang masih menggunakan bahasa daerah setempat sebagai bahasa pengantar,” katanya. (sumber)

Previous Older Entries