Ajaran Ki Hajar Dewantara mulai Ditinggalkan


Meskipun tanggal lahir Ki Hajar Dewantara diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, tetapi ajarannya mulai ditinggalkan. Konsep pendidikan yang dikembangkannya di Tamansiswa pun kini terpinggirkan.

“Pendikan ajaran Ki Hajar Dewantara tidak berorientasi pada kepentingan global. Pendidikan yang dikembangkan sekarang ini berbeda sekali orientasinya,” kata Ketua Majelis Luhur III Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Persatuan Tamansiswa Yogyakarta, Wuryadi.

Pendidikan yang diajarkan pelopor bagi kaum pribumi Indonesia di jaman penjajahan Belanda itu sifatnya mandiri, merdeka dan swadaya. Hal itu sangat cocok untuk dikembangkan untuk pendidikan nasional.

“Prinsip kemerdekaan dalam pengembangan pendidikan adalah counter atas pendidikan penjajahan. Selama pendidikan di Indonesia masih dibayang-bayangi penjajahan maka pemikiran Ki Hajar Dewantara masih relevan dikembangkan. Sekarang ini masalah pendidikan sangat tergantung dari siapa yang memegang kekuasaan,? katanya.

Dalam sejumlah hal, kebijakan nasional dalam hal pendidikan sangat berbeda dengan konsep pendidikan yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara. Oleh karena itu, Persatuan Tamansiswa Yogyakarta sangat tegas menolak Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan.

“Kita mengajak seluruh komponen pendidikan di Indonesia untuk mengkaji bersama ajaran Ki Hajar Dewantara untuk menyelesaikan problem pendidikan di tanah air. Sampai sekarang ini pemerintah tidak berminat karena kepentingannya sudah berbeda,” katanya.

Saat ini seluruh lembaga pendidikan yang bawah persatuan Tamansiswa masih konsisten mengembangkan konsep pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara. Meskipun mereka masih banyak kendala, terutama persoalan dana.

“Kita tidak punya modal. Kalau kita mandiri dari murid saja tidak bisa hidup. Pada prinsipnuya keberlangsungan pendidikan di Tamansiswa sangat terpengaruh dengan kebijakan nasional dan pendanaan.”

Iklan

Memprihatinkan : Foto Salah satu sekolah di Bone


awal Nya Ku pikir ini kandang sapi(maaf bukan maksudnya merehman), tapi ku liat kok ada meja dan kursi, dan ku tegaskan judulnya…

gimana dg DPR kita, Pemerintah Kita, Kemana Mereka, Mana janji Pemilu Mereka??? Mana anggran 20% pendidikan:berduka


Gue bener Terharu Gan… kasihan bgts…

:berduka:berduka

Dimana kalian Para Koruptor… Tidak kah kalian Malu kepada anak2 Negeri Ini?

Apakah kita menunggu pemerintah Bergerak, kata salah satu Motivator, Mari kita Mulai dari diri kita(apa yg bisa kita perbuat), dari yang kecil dan mudah2(misalnya tidak menyia2kan belajar, tidak mudah menyerah dll), di mulai dari kita, sekarang…

Mudah2an gak report ya gan, kalo ada rijki cendol sisa ane gak nolak gan:toast

update
[spoiler=update]

Bener2 Lucu negeri ini, seprti film dedy mizwar, korupsi dah menghancurkan negeri ini.

Ternyata sekolah seperti laskar pelangi, masih ada mungkin masih banyak gan..

sumber :http://www.caraternakikan.com/forum/Foto-Sekolah-di-Bone-Prihatin-Gan.-yang-Cinta-Negeri-Masuk-Gan.

Aduh bagaimana nih…..? Sekolah tidak ada gurunya


Ditemukan, sebuah sekolah tanpa guru, yakni di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Desa Lubuk Gadung, Kecamatan Talo, Kabupaten Seluma. Murid-muridnya terpaksa dialihkan ke sekolah yang terdekat.
Belum ada tindakan serius dari instansi terkait untuk mengatasi kekurangan guru tersebut.

Demikian menurut anggota DPRD Provinsi Bengkulu Siswandi di Bengkulu, Selasa (11/5/2010). Siswandi menyatakan, pihaknya menemukan sebuah sekolah tanpa guru tersebut saat melakukan reses pekan lalu ke wilayah daerah pemilihan (Dapil) Seluma. Dia mengatakan, seluruh murid Madrasah Ibtidaiyah Negeri itu digabung ke sekolah di Desa Kebun Tinggi atau dua kilometer dari Desa Lubuk Ladung.

“Dan belum ada tindakan serius dari instansi terkait untuk mengatasi kekurangan guru tersebut,” ujar Siswandi.

Selain itu, kata dia, Kantor Kementerian Agama setempat, pun lepas tangan dan berdalih, bahwa seluruh gurunya sudah disebar ke sekolah lain. Sementara itu, pihak Dinas Pendidikan Seluma juga mengaku hal itu bukan kewenangannya.

Siswandi menilai, instansi terkait kurang tanggap untuk mempertahankan sekolah tersebut. Padahal, kata dia, warga dan sejumlah tokoh desa sudah berkali-kali memberitahukan soal tidak adanya guru yang mengajar di sekolah itu.

“Para guru sebagian besar enggan bertugas di daerah terpencil, padahal ketika diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) harus dapat melaksanakan sumpah dan janji jabatan,” ujarnya.(Kompas)

Previous Older Entries